Rabu, 04 Maret 2026

PANGGILAN CINTA

PANGGILAN CINTA

Berkali-kali aku coba untuk tidak berkicau
Tetapi, suaramu bersiul merdu
Mencipta irama yang indah
Aku bernyanyi dengan lirik yang hanya dimengerti semut merah

Jika suatu hari aku menari berputar-putar
Biarkan aku mabuk terbang membawa arang
Akan kucoret rembulan yang lembut
Kuhapus matahari yang membara
Kurangkus semua bintang-bintang
Kulebur ke dalam segelas samudera
Lalu kutuang pada ceruk bibirmu

Agar tiada lagi keindahan tersorot mata
Kecuali keindahanmu yang nyata
Dan jalan lurus yang kubangun dengan cinta

Zaini Dawa
Sumenep, 1 Maret 2026

Sabtu, 21 Februari 2026

SAJAK BERLUMURAN MADU

SAJAK BERLUMURAN MADU

Dengan menyebut namamu
Aku tulis puisiku seharum napas bunga
Aromanya menyeruak ditebar angin barat
Kau berdiam di sela-sela kata yang kulapisi nektar
Serta kedip sayu matamu membentuk sajak berlumuran madu

Engkau adalah pilihan kata
Aku tulis di atas batu tanpa titik
Seperti air mengalir dari hulu air mata
Hingga beriak di hilir bermuara canda.
Kadang tenang
Kadang berisik

Engkau adalah puisi terindahku
Bila aku baca 
Burung-burung berkicau memecah sunyi berkabut
Ranting-ranting kering berderak menahan retak

Kuakan semakin lantang berpuisi
Untuk menjaga senyummu tetap bernyawa

Zaini Dawa
Sumenep, 19 Februari 2026

Rabu, 04 Februari 2026

MIMPIKU MASIH BERDIRI DI DEPAN PINTU

MIMPIKU MASIH BERDIRI DI DEPAN PINTU
Zaini Dawa

Kubiarkan langit terpejam
Setelah gagal kusempurnakan pelangi menapaki bumi

Ada sedang menjelang masih
Ada tetap sempurnakan akan
Meskipun matahari terbitkan terang
Tetaplah aku menangis dalam gelap

Keringat malam keringat dingin
Bercucuran seolah mengerti 
aku harus bagaimana

Maju selangkah seribu duri menusuk
Diam di tempat mati membusuk
Pulang kalah membawa luka
Pergi jauh dikutuk para dewa
Di sini gerak kaku membatu di titik terendah
Menghitung angka-angka cinta di atas sajadah

Begitu dahsyatnya jalan takdir
Setiap langkah bagai disapa petir
Sekali sambar
Aku mati di akhir kilatan sajakmu

Tanpa meringis kugantung harapan
Perihal mimpi jangan tanya
Aku masih berdiri di depan pintu surga
Masih memanggil namamu

Sumenep, 26 Desember 2025

SEBUTIR DEBU

SEBUTIR DEBU
(Zaini Dawa)

Hey, rembulan biru
Aku datang dengan cinta berembun
Berebut pagi yang jujur dan lembut
Dengan napas yang selalu baru
Dan tutur sapa yang selalu sejuk
Aku ingin cinta yang jernih dan bening
Maka aminkan saja doa-doaku yang telah mengkristal di langit

Jika engkau tidak bisa kupetik
Jangan kau gelar awan hitam di langit
Karena aku ingin kau selalu bersinar
Walau setiap detiknya badai hitam mengintai

Aku rela menjadi sebutir debu di sela-sela cincin jari manismu
Agar kurasakan kegaduhan detak jantungmu
Biar kuacak-ngacak sepimu
Dan bisaku berulah di dalam nadimu

Sumenep, 01 Januari 2026

Senin, 09 Juni 2025

AKU BISA SAJA MEMETIKMU

AKU BISA SAJA MEMETIKMU
Zaini Dawa

Melati
Aku bisa saja memetikmu
Tapi, aku tidak melakukannya
Bukan tidak mau
Kamu akan layu di saat wangi-wanginya 
Gugur di saat segar-segarnya
Rindu mencekam di saat sayang-sayangnya
Cinta ini tidak pernah diajari bagaimana cara mengubur bunga

Sampai hari ini 
Aku masih seperti malam
Meredam detak nadi menyimpan sunyi 
Menjaga mata bagaimana pertama kali terpejam
Bahkan sebelum kau membuka mata aku sudah tersenyum

Menahan umpama di balik kesakitan berwajah tulus
Pantang kucabut dalam menggamit cintaku
Sekalipun terlempar jauh ke dalam mimpi

Sumenep, 09 Juni 2025 

Senin, 30 September 2024

RAPUH

Puisi Prosais
(Zaini Dawa)

Bisaku tawar dalam sunyi
Lenyap sapa ronta aksara
Tampak rupa kurasa hilang kujaga
Betapa rapuhnya aku menanggung rasa ini
Kian lama kian membesar
Semakin kuat semakin ganas
Memulas tenggorokan tanpa jeda
Beringas mencekik cinta yang masih berdenyut

Telah aku katakan pada rindu
Ayo lakukan
Jika tak sanggup
Lakukan dengan mata terpejam
Jemput kematianku dengan cara sesukamu
Aku akan tetap tersenyum
Dengan mata dan telinga terbuka

Ayo lanjutkan
Selesaikan
Tuntaskan
Biarkan aku yang tanggung semua lara dan nyerinya
Sampai kedipan terakhir

Pandanganku tak pernah terhalang apapun
Menyaksikan indahnya purnama di langitmu
Karena itu aku
Aku yang hidup dalam sumpahku sendiri
Sumpah yang telah dicatat di lauhul mahfudz

Dan satu lagi
Aku tidak akan menyalahkan rindu yang nakal ini
Menyalahkan cinta yang enggan berhenti bernapas
Atau menyalahkan siapapun atas kerapuhan ini
Karena hadirmu mewahkan takdirku


Sumenep
23 September 2024

Kamis, 19 September 2024

HOMONYM

Aku sangsi
Kata apa yang akan bertahan di akhir sajakku
Bila huruf-huruf yang kususun dibaca bisa
Meracunimu hingga menjadi bunga tanpa nama

Bisa dan madu satu lafaz dalam segala desah
Satu eja di setiap bisik lirih
Dan prosamu yang membuatku mabuk
Telah mengagalkan aku menjadi sajak

Di sini adaku seperti parafrase
Kupoles setiap diksi dengan kecupan-kecupan di malam purnama
Bertahan karena diistimewakan
Terbuang karena terlalu berisik
Merecoki garis takdir di telapak tanganmu

Baris terakhir kata-katamu berkeringat dingin
Gigil gemetaran
Menjerit ketakutan
Dihantui mimpi terburuk di setiap halaman
Engkau terjaga
Aku terperanjat
Terhuyung memalsukan darah dan nanah
Menyatukan hakikat cinta sejati
Tetap suci di dalam jiwa yang satu


Sumenep, 19 September 2024
(Zaini Dawa)

PANGGILAN CINTA

PANGGILAN CINTA Berkali-kali aku coba untuk tidak berkicau Tetapi, suaramu bersiul merdu Mencipta irama yang indah Aku bernyanyi dengan liri...