SAJAK BERLUMURAN MADU
Aku tulis puisiku seharum napas bunga
Aromanya menyeruak ditebar angin barat
Kau berdiam di sela-sela kata yang kulapisi nektar
Serta kedip sayu matamu membentuk sajak berlumuran madu
Engkau adalah pilihan kata
Aku tulis di atas batu tanpa titik
Seperti air mengalir dari hulu air mata
Hingga beriak di hilir bermuara canda.
Kadang tenang
Kadang berisik
Engkau adalah puisi terindahku
Bila aku baca
Burung-burung berkicau memecah sunyi berkabut
Ranting-ranting kering berderak menahan retak
Kuakan semakin lantang berpuisi
Untuk menjaga senyummu tetap bernyawa
Zaini Dawa
Sumenep, 19 Februari 2026