Sabtu, 25 Desember 2021

NASKAH 50 PUISI


#EKA_29

MELUKIS SENYUMMU PADA REMBULAN
(Ekawati) 

Saat rindu menyeretku dalam lamunan
Bayangmu menyeruak seketika
Menghunuskan seribu cinta tepat ke dada

Kulai lemas menguasai
Seakan tak mampu mengemas asa yang tertumpah, sambil memapah sebelah hati yang digelayuti rindu
Sungguh mencintai dalam diam terbitkan gila

Pada malam sunyi lenyi kutengadahkan kepala
Sambil melukis seulas senyum pada rembulan
Lalu merayu mimpi untuk kembali mengecup lelap malam ini

Wahai rindu
Kunikmati semayammu di kedalaman asa


Padang Lawas
28.04.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

Eka_28
HANYA MILIKMU

Aku mencintaimu tanpa jeda
Serupa angin berembus lirih
Sesederhana udara yg terhirup lalu kembali terhempas

Memaksa memburu menguasai terlepas
Sejuknya air wudhu membawaku pada simpuh juga tengadah
Wahai makhluk ciptaan Rabbku
Aku mencintaimu meski tanpa menggenggam
Memiliki tanpa harus menyakiti 
Selalu membersamai dengan rasamu adalah nafkah yang memenuhi segala butuh

Pada pucuk berembun untaian ikrar terjaga
Ar-Rahman telah menjadikan kita ada
Meski abu-abu namamu sudah ada di teleng kalbu  
Menjadi rindu selamanya

Aku serupa fajar yang hangatkan hatimu
Meski kecup belum mampu menembus ruang dan waktu
Kedipku hanya milikmu, di sini atau kampung abadi nanti

AuSa
Kepri, 3 Juni 2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

Eka_27

LANGIT SENJA
(Ekawati) 

Pada langit senja
Dulu
Selalu ada sajak dan puisi 
Berlarik sendu di kedalaman kalbu

Kini aku kembali
Ke senja ini
Mendekap asa yang bermekaran di langit
Menjadi untaian sajak dan puisi
Abadi

Ada cinta
Ada bahagia
Ada rindu pada birunya
Dan juga kita

Ah kekasih sayang semata wayang
Bukalah pintu rindu
Biarkan aku menuang pelukan
Mempersatukan asa-asa yang berantakan

Dan kepada langit senja ini
Aku senandungkan segala sajak dan puisi
Menjadi kita selamanya

Padang Lawas
20.04.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

Eka_26

RUMAH CINTA
( Senja ) 

Sayang
Hantaran dendang awan mengalun kali ini
Melodi angin sejukkan kecup 
Hadirkan binar di beningku
Singkirkan kelabu dengan bujuk rayu
Jembar dada melangitkan ketulusan 
yang kau timang sayang

Sayang
Sebelumnya aku hanyalah sisa-sisa daun kering di pelantara maya
Melupa rupa dan warna
Tetapi bianglala di matamu membuatku merasa berharga
Kedip riang meriangkan hati
Kerling manja berbalas canda
Kabut di lembah luka akhirnya tersibak
Berganti dengan buncah bahagia

Sayang
Jika nanti mendung kembali merundung pilu
Genggaman tanganku eratkan
Dekap lekat hati dan jiwa
Embus nestapa hingga sirna segala
Hingga yang tertinggal lalu merumah hanyalah cinta

Sarang Rindu 
21.10.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

Eka_25

SAKSI RINDU
(Ekawati)

Pada jejak mimpi sebaris jingga terkulai
Ada luka yang perih di dadanya
Mencoba berteduh di bawah naungan mega

Senja berbisaik hantarkan cahaya
Mengulum gema pada arak-arakan awan
Berharap semesta mau bebaskan belenggu pada jiwa

Suara-suara rindu terdengar kembali
Menggulirkan air mata pada wajah purnama

Keruh segera menghambur
Redup hati kembali bergelimang sepi

Dan aku masih di sini
Bertahan tanpa pinta
Berselimut doa sambil memeluk sabar
Yang nanti akan menjadi saksi betapa rindu ini hanya tentangmu

Padang Lawas
12.04.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#eka_24

MENELISIK WAJAHMU DI BALIK RIMBUN RINDU
(Ekawati)

Semburat jingga meredup
Cahaya tersisa berloncatan 
Dari jendela senja ke malam
Gelap segera menziarahi petang
Malam kembali pada biduk rindu

Sesekali terdiam menyeka air mata 
Menggenang tulisan di lembar takdir
Tentang cincin di lingkar jari manis
Tentang senyummu di balik gemintang
Juga tentang aku yang rapuh
Menjadi sekelumit kisah 
Di sepanjang perjalananmu
Sebagai pengusir sepi
Juga pajangan hati

Masih kusimpan semua di sini
Pada ceruk dada paling hening 
Tak pernah berharap bisik
Atau gemanya terdengar lirih
Namun denyutmu selalu ada 
Menjadi debar di jantung
Menemani sepenuh waktu

Aku bebaskan kau meramu jalan tuju
 Lalu kulepas mekar wangi mawar
Agar terkunci bersamamu selamanya

Padang Lawas, 22.02.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#Eka_23

AKU MILIKMU
(Ekawati) 

Seperti Qais yang tak akan melihat apa pun selain taman Laila
Aku pun akan bernapas hanya dengan embusan cintamu saja
Biarkan aku menggilai seumur hidupku 
Dan tenggelam di samudra rindumu selamanya

Akan kutapaki mahligai yang  teranyam dari tetesan embun
Meski sekejap akan kunikmati sejuknya langsung dari hati

Aku tak peduli meski deduri mawar yang membelukar menusuk, menyayat hingga kucurkan air mata
Aku tak peduli
Yang aku tau engkau napas nyawaku

Peluk aku sepanjang malam
Juga gandeng dalam terang cahaya
Aku adalah milikmu kini, dan selamanya

Padang Lawas, 
04. 03. 2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#eka_22

HANYA AKU SAJA
(Ekawati) 

Kusaputkan warna-warni senyum ke hatimu
Juga tentang diksi cinta yang menggantung di ujung mimpi
Meski kadang kabut kelabu menghijab
Sembunyikan kuntum-kuntum rindu yang merona dengan warna delima

Salahkah bila ingin seumpama rumah
Tempat kau melepas baju lelah juga resah
Kemudian merebahkannya pada kehangatan dada
Lalu cinta akan menepis jelaga yang berusaha mengacaukan rona

Tak izinkan lagi berkelana 
Meski hanya untuk menghirup udara 
Karena hanya napasku yang boleh keluar masuk ke parumu 
Hanya denyutku saja yang mengalir di nadimu
Hanya senyumku saja yang menjadi rindumu
Hanya aku segalanya, selamanya

Padang Lawas, 
23.08.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#eka_21

MEMELUK SABAR DENGAN SECANGKIR RINDU
(Ekawati) 

Kuanyam selarik tanya
Aksara hening seketika
Hanya suara bimbang yang terdengar 
Mengetuk-ngetuk hati
Sembari menuturkan rindu yang masih terasa hangat

Duduklah sejenak wahai
Lanjutkan diksi yang tercekat tak sampai ke bibir tadi
Jangan dulu kau lukis renjana pada wajah
Bukankah engkau yang dulu melatihku memeluk sabar

Nikmati cangkir rindu yang kuseduh 
Agar rasa manisnya tercecap lidah
Memikat debar yang bersarang di dada 
Kemblikan denyar jantung dengan diam-diam
Lalu saling dekap melabuh kecup pada sepasang bibir kekasih
Syahdu

Padang Lawas, 
12.02.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#Eka_20

JELMAAN RASA
(Ekawati)

Berlembar-lembar waktu terlewati
Berbait-bait puisi pun telah terangkai
Menjadi pelangi dalam pigura hati

Kueja abjad lalu kugoda dia dengan diksi penuh cinta
Hingga langit berhias larik-larik mimpi

Meski senja bertandang, bahkan ketika gelap menjumputi semburatnya aku tetap menorehkan tinta
Aku tak butuh pelita
Malam takkan pernah melindapkan wajahmu dari imajinasiku
Bukankah aku sudah katakan sebelumnya
Aku tak perlu menjamah jika hanya ingin temukan rautmu
Seperti embun yang tak pernah melihat dimana bilah ilalang menyirip untuk rebahkan rindu

Kau aku sama-sama telah menggenggam
Jadi untuk apa lagi debar
Jika napas yang berhembus atau yang terhirup masuk ke paru adalah jelmaan dari rasa yang ditiupkan Tuhan untuk kita

Padang Lawas, 
06.02.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#eka_19

MEMADU CINTA
(Ekawati) 

Duhai tuan pemahat rindu
Kurebahkan sujud pada ubun-ubun waktu
Seolah aku akan mati sebentar lagi
Pasrahkannya memamah jasad
Karna cinta sungguh dianugrahkan pada hati bukan rupa

Sapamu selalu terdengar mesra
Hangat dekap  pun mampu buatku melupa dunia
Lalu berdiang aku di antara doa

Tak perlu meronce rindu
Tersebab seluruh diksimu sudah terserak pada tubuh ini sejak bila
Bahkan setiap kecup bibir kini basah oleh aromamu
Lalu bagaimana hendak melepas 
Sedang detak di jantungku ada dari bulir tasbih yang berlafal namamu

Mau apa lagi selain merayu
Saling tatap dikala azan berkumandang
Lalu bersama memadu cinta dengan takbir Allahuakbar

Padang Lawas
30.01.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#eka_18

MAAF
(Ekawati)

Tubuh luruh lunglai letih rebahkan 
Gemuruh rindu terbekap
Igau kemarin bisu
Lalu hasrat terhapus ragu

Malam ini masih serupa kemarin
Ketika kening tersungkur sujud dengan netra basah
Jiwaku tak mampu meraba
Meski arash tampak nyata

Kembali kukecupi doa-doa dengan namamu
Lalu aku menangis
Aku tak sanggup kekasih
Hukumanmu terlalu berat
Maaf jika kadang rasaku mencekikmu
Bahkan kadang menusuk matamu
Tapi inilah rinduku

Setitik air mata jatuh di tengadah
Kulihat dia sesak nafas
Kubujuk pun dia tak nak
Hingga akhirnya aku mengerti
Sujud-sujudku yang berbisik tak pernah mampu menembus kalbumu

Padang Lawas
27.01.2022

🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#eka_17

MENGUSUNG LENTERA RINDU
( Ekawati )

Rindu telah berganti rupa
Meninggalkan bejana hati 
pada rumah-rumah tanpa kunci
Vas di atas meja kosong 
Hanya menyisakan bunga lusuh
Yang tersaput kepura-puraan
Lalu aku mulai memamah sepi 
Menghilang di antara debu 

Tutup semua pintu dan jendela nurani
Begitulah kau menjaga
Apa kau lupa bahwa aku butuh cahaya 
Juga udara dari mata dan embusan napasmu
Lalu bagaimana cara mengenyangkan rindu
Jika engkau pun tak punya cukup waktu memelukku

Ah sudahlah, tenanglah jiwa
Usung saja temarammu
Tundukkan kepala
Tengadahkan tangan
Adukan semua air matamu padaNya
Kupastikan namamu ada di setiap do'a akhir sujudku

Padang Lawas
19.01.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#Eka_16

MENEMUKAN WAJAHMU
(Ekawati) 

Kusisiri serpihan rindumu
Lalu mengumpulkannya agar harapan yang masih tertinggal tak ikut lebur dengan sisa air mata

Rinaimu akan menambah subur benih yang tertindih bebatuan takdir
Basahmu juga akan melebur semua prasangka yang bertakhta

Tentang gemuruh, biarlah hanya engkau saja duhai hati yang mendengar

Sekarang aku sudah mampu menemukan wajahmu tersenyum meski tanpa membuka kelopak mata
Bahkan aku mampu mendeskripsikan napasmu yang beraroma cinta ke paruku
Kemudian kuhirup dalam diam

Dan kini engkau telah merajai hatiku duhai tuan

Padang Lawas
06.01.2022
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#Eka_15

AKU TAK AKAN BOSAN
(Ekawati) 


Meski dingin tak lagi memiliki gigil
Jemari ini tak kan letih menggores diksi dengan namamu
bilah-bilah canda yang tercipta akan selalu menjadi rasa paling kurindukan

Jika nanti pelangi tak lagi memiliki warna
Aku tetap tak akan bosan memandangi nya
Karena aku tahu engkau sedang berusaha melukiskannya kembali untukku

Merah mawar akan kau dapatkan 
Untuk mewakili geloramu yang tak akan pernah padam

Jingga dari ranum buah syurga akan kau petik 
Kemudian menjadikannya perona pipiku

Kuningnya cahaya mentari akan kau biaskan tepat ke hatiku
Hingga tak lagi ada pijar lain yang mampu kuraba

Hijaunya daun basah berembun akan kau kecup dalam-dalam 
Maka hilanglah segala kegelisahan yang menghantui sepanjang hariku

Lalu biru kasihmu akan menenggelamkanku dalam penantian tak berujung

Dan aku tak akan pernah bosan 

Padang Lawas
25.12.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA_14

SAYAP RINDU
(EKAWATI) 

Ketika senja memeluk renjana
Sepasang sayap murung berkelana
Mengepak mimpi di antara butiran tasbih yang terserak di pintu rindu

Angin terbangkan jiwa ke jauh angan
Melesat tajam lepas dari busur dan tertancap di hatimu
Ciptakan geletar di sekujurku

Aku hanya ingin bebas mengecup bibirmu
Tanpa gemetar yang mengembara liar 
Aku hanya ingin menimba habis bahagiaku dari bening matamu
Lalu meraciknya menjadi tutur cinta yang mengharu biru

Kukais sisa-sisa rasa dalam hatimu
Ketika lelah bertamu di sudut kosong di sebelah jantung
Dengan tengadah bertanya aku padaNya
Mungkinkah ada tempat untukku berteduh serta merasakan hangat dekapanmu

Padang Lawas
21.12.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴


EKA_13

JEJAK PELANGI
( Ekawati ) 

Tuan hati ini benar-benar telah terkurung dalam rasakumu
Erat membelenggu angan
Tak nak melekang walau sekejap

Embusan angin kadang menghempas rasa yang menelisik di antara senja dan gelap malam
Menggelorakan cinta yang membahana
Marayu kalbu dengan cumbu
Hingga rindu tak berujung, terbitlah

Sungguh jiwaku telah menjadi milikmu
Kerlingmu menyerabut keseluruh nadi hidupku
Memenjarakan rasa pada nebula

Meski samar kubaca setiap gerak bibir ketika engkau membisikkan namaku
Merasakannya di ceruk dada
Sebagai jejak pelangi untukku sendiri

Padang Lawas, 19.12.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴


#EKA_12

PESAN RINDU
(Ekawati)

Berhari-hari kutasbihkan doa dalam nadi
Tak biarkan sedikit pun bias cahaya bergeser dari hati paling palung
Lalu kuembusan namamu pada sulur-sulur diksi beraroma cinta
Agar gema suara kalbu menjadi puisi paling mempesona

Duhai tuan yang pada keningnya kuletakkan sebuah rasa
Lihatlah lembayung yang menggantung di bibir senja
Ada senyummu di sana

Saat sapa dengan beribu ketulusan tak mampu terucap
Syurga tetap berkunjung ke dalam dada
Meronakan wajahku dalam sipu penuh rindu

Kusimpan pesan debar dalam syair
Bersama bayu rindu yang berembus di pelantara hati
Lalu kupanggil namamu dengan lirih suara
Sebagai pengobat gelisah yang hadirkan resah

Bernyawalah engkau wahai dalam diriku
Puaskan dahagaku dengan ketulusan
seperti tatapan cintamu yang telah hidup lebih dulu di jantungku

Padang Lawas
18.12.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA_11

CINTA TANPA JELAGA RUSUH
(Ekawati)

Malam telah purna
Ketika air mata menggantung di sudut mata
Sepinya mengemas kecewa 
Lalu menina bobokkan luka dengan nyanyian sendu 
Berharap isak rindu tak lagi terdengar pilu

Waktu lelah menyulam biasaku
Memintal sisa rajuk bersama benang-benang sabar
Agar buncah rasa diam berhenti berontak

Kukumpulkan semua lembar rindu
Lalu melipatnya dengan penuh rasa sayang
Dan mimpi bertukar wadah

Kupeluk hasrat yang mulai meliar
Membujuknya dengan lembut rasa
Agar lirikmu kembali mengalir dengan tenang di nadi
Mengisi sekujur tubuhku dengan ketulusan cinta tanpa jelaga rusuh

Padang Lawas
17.12.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA10

BENANG RINDU
(Ekawati) 

Tak ada yang mampu kusentuh 
Apa lagi mencumbu rayu
Perihal cinta kita hanyalah nyanyian malam yang tak bernada
Sunyi

Tetesan tinta rindu tak pernah puaskan dahaga
Hanya menambah rusuh gemuruh 

Sesekali kutatap lenyi yang berdiang di dada malam
Sambil menggenggam dian yang tersisa pada ujung pengharpan

Kupintali semua benang rindu dari sisa hujan
Selembar demi selembar mulai meraut rupa
Tetapi angan tinggal lah angan
Hanya desau lara terdengar pilu
Selebihnya kosong

Padang Lawas
04.12.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA09

AROMA RINDU
(Ekawati) 

Aku tak mampu menghapusnya
Meski tertatih, kupapah langkah menujumu
Tak hiraukan riuh yang menggoyang larik-larik aksara
Tak nak kutakar lebar jembarnya
Biar saja bembentang luas sesukanya

Kita tahu tentang lengkung pelangi tak pernah lama
Seperti gerimis sebelumnya yang akhirnya berakhir
Tetapi apa daya kita
Ketika wadah di ceruk hati beraroma rindumu dan rinduku

Jangan yakinkan hatiku dengan lisanmu
Cukup diksi yang bermuntahan di matamu mengungkapkannya
Aku takkan mengetuk apa pun untuk masuk
Karna sejatinya kita sudah ada di dalam jauh sebelum hari ini

Padang Lawas
04.12.2020
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA08

BIARKAN CINTA KITA TETAP TUMBUH
(Ekawati) 

Jiwaku tak akan pergi
Meski rasakumu telah dikebiri 
Rindu dan cinta akan terus berputik
Kembangkan rona dengan semua warna

Merinduimu akan menjadi larik yang akan ku tulis setiap hari
Lalu biarkan kupu-kupu dan kumbang membacanya
Agar mereka tahu ada sesuatu yang berdenyar di dada kita

Tak akan ku biarkan ruang dan waktu membelenggu angan 
Mari kita usir kabut yang coba menghijabinya
Karena taman kita nyata adanya

Meski lidah kelu 
Jemari akan selalu saling menyeka butiran keringat ragu
Yang berhamburan 
Saat resah menderas membelenggu

Sayang, biarkan cinta kita tetap tumbuh, berakar, membelukar di taman hati 

Padang Lawas
03.12.2020
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA07

MENANTI
(Ekawati) 

Terjerembabku dalam kisah yang sama
Memeluk risau dalam penantian berkepanjangan

Kubaca kembali lembar lembarnya
Lalu kusematkan sedikit pesan hati di sana
Tentang syahdu rindu yang bergelayut manja
Juga ramuan cinta dari campuran tawa

Telah habis sabdamu kueja
Sampai diksi terakhir yang kau aminkan dengan binar cinta, tamat

Aku akan tetap di sini
Dengan tengadah yang sama
Dengan janji yang sama
Dengan binar yang juga sama

Duhai malaikatku
Sesekali tataplah keluar
Kebun mawar yang kau semai itu tetap membelukar
Meski duri-durinya menusuk dan tinggalkan luka di hatiku
Aku akan baik-baik saja

Padang Lawas
28.11.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA06

BIARLAH MEMBATU
(Ekawati)

Embun telah surut Seiring rindu yang ditimpa terik 
Rasaku hanya mampu bersembunyi di celah aksara
Terangkai indah dengan diksi air mata

Aku tak lagi mampu membelai keningmu
Tak dapat menunjukkan bayang
Tak berdaya melantunkan sapa

Wajah kuyu mengering di kerontang surya
Biarlah, 
Semoga rindu ini segera membatu
Lembah ngarai yang lembab karena air mata segera menghilang

Cinta baru saja merekah menampak warna
Namun kenyataan telah mencabiknya dengan brutal
Sisakan sunyi dalam diam

Ah kekasih, apa yang kutulis tak kupahami sama sekali
Rindu ini telah merampas semuanya
Dan takdir kembali hancurkan harapan

Padang lawas
26.11.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA05

MERANGKAI JANJI
(Ekawati) 

Tangis bisu ini kembali menggenang
Berpacu deru pilu
Ku ajak beberapa tetes rindu menasbihkan cinta
Mengemas kidung selawat penghantar doa

Kisah ini masih tertulis di lembar lembayung 
Ronanya juga masih hangat tersisa

Meski sapaku kini bisu
Seperti embun yang mengikat janji pada pucuk pucuk dedaunan
Engkau yang telah merangkai janji untuk kabulkan harap abadi
Hingga kedip itu selalu berwarna pelangi

Tapi satu yang harus kau pahami, 
Dirimu akan abadi selamanya tersimpan di palung hati

Padang Lawas, 
24.11.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA04

SAPAMU SENGAU
(Ekawati)

Lenyi akan menjadi penutup cerita
Gelak tawa rayu mendayu tak akan lagi menggantung di bibir

Hilang canda
Hampa tawa
Dan semua bisu dimakan waktu

Menyelami rasa tak lagi berani
Apalagi menunjuk rupa

Hasrat mencumbu telah menuai rajuk
Gayung tak lagi bertaut
Tercerai oleh garis yang dipisahkan takdir

Sebelah menyebelah
Dan canda pun beku mengeras

Janji mengayuh bersama tak lagi saling teraba
Biduk kita terombang ambing di Samudra
Luka kecewa bawa duka air mata
Kembali dan lagi
Mendekap erat jiwa yang sejak kemarin sudah berderai tak berupa

Dan akhirnya, 
Sapamu terdengar sengau

Padang Lawas
28.11.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#Eka03

KUBANGAN KENANG
(Ekawati) 

Rinai pagi ini telah melaksanakan tugasnya 
Semua rindu telah tenggelam dalam kubang kenang

Kuncup cinta enggan mekar
Kelopaknya hanya mencuat setengahnya
Sambil terus mencumbu cemas dan cemburu

Ah kekasih, 
Tak kukira aku seluka ini
Terisak sendiri memeluk keabadian yang kau gores di tubuhku
Sementara deduri yng menancap masih lagi basah oleh air mata

Padang Lawas
27.11.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA02

BEJANA DO'A
(Ekawati) 

Sejak subuh jiwa bertasbih
Menggores nurani dengan lembut cinta
Harap sua menggelinding disela bulir-bulirnya

Kuhempas air mata pada sajadah
Sambil mengurai kerinduan yang semakin mendekap
Telah kukemas segala rasa
Lalu menatanya dalam bejana do'a

Padang Lawas
25.11.2021
🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴🔴

#EKA01

TELAH KUSIMAK GEMURUHMU
terimakasih; Malaikatku
(Ekawati) 

Kusapa syairmu di pelantara senja
Diksi-diksi indah berbalut cinta menari 
Lirik mesra terus mengalun
Menarasikan perjalanan hati saat menemukanku

Gumam bersenandung  di gemuruh nadamu
Lalu kukemas semua tanpa jeda
Tunduk takluk di bawah jendela hati
Sambil menatap wajahmu merembulan benderang
Mencerah ceriakan wajah yang tersaput kelabu kemarin

Kunanti dikau di sisi hati
Sambil menasbihkan risalah yang diembuskan sang bayu

Senyum tak memudar kala tatap tak hanya tertuju padamu
Bahagia akan terlukis jelas pada bahagiaku

Itu katamu, dan aku percaya

Terimakasih malaikatku,
Senyummu akan selalu menjadi rumah cintaku

Pekanbaru
06.11.2021

Jumat, 19 November 2021

SILSILAH ZAINI DAWA jalur ayah

Silsilah Dari Pihak Ayah 👇🏻
POTONAH MISRA + MISJATI
1. Pak Nik
     1. Mu'inna + Salamo
          1. Moh. Zubairi
          2. Robiah
          3. Halili
2. Margina (bak Amna) + Dahlal
     1. Amna
          1. Samheji
          2. Syafi'ih
          3. idris
          4. Abu bakar
          5. Umar
          6. Hamim
           7. Abdul qadir
     2. Mat zuhral
     3. Abdullah (Dulla) + Sahriyah✅️
          1. Zainuddin
          2. Khoiruddin
          3. Maiseh
          4. Rasidi
     4. Sunaidah
          1. Kamilah.
          2. rahmah
          3. mohammad
     5. Dul gani + Farihah
          1. Mujib
           2. is
           3. Adil
     6. Suri
           1. Obet
           2. sadikin
     7. miskiyah
3. Pak karsi + bun sahriyah
    1. Sahriyah + Abdullah ✅️
          1. Zainuddin
                1. Jamal
          2. Khoiruddin
               1. Wildan
          3. Maizah
               1. Uswatun hasanh
          4. Rasidi
               1. Almutsiratu
     2. Aziz + Satona
          1. Mahfud             
          2.  Padil
          3. Has
          4. Hel
              1. Rama
               2. Kenzi
     3. Mohammad + Jumailah
          1. Rosi
              1. Faiz
              2. 
          2. Parid
              1. Sakir
     4. Pusiyah
          1. Sarifah
          2. Fatim
        
4. Buk sulima + Holla
    1. Munir
    2. Mulihah + Tawin
    3. Mis (miskiyah)
5. Hasbiya + pak Mo
    1. Zali
    2. Addiyah
    3. Pusai'ei
         1. Vida
         2. 
    4. Dahri
         1. Pathor rohman
         2. Titik
6. Misjadin + So'ama 🔴
    1. Raodlah.         
     2. Su'udi + khozaimah
          1. Ubaidillah
          2. Akmalur Rizal
     3. Hosniyah + Halili rosi
          1. Khoirul Umam
                 1. Adiba Sakila / Qonita
                 2. Hafizah syarifah
          2. Faizal kholili
          3. Mahbub kholilullah
     4. Hasin + Efi nofitasari
          1. Azalia Qotrinnada
     5. Moh. Zaini + Jamilah
          1. M. Danil Wasil Syarif
          2. Nila Izzaty
          3. Ainun Imamy
     6. Idris + Anik masitoh
          1. Zuhil Qodri
          2. Alisa khoiruwilda
          3. 

Rabu, 03 November 2021

HAKIKAT

Aku adalah malam yang terbangun oleh kata-kata
Dan mimpi yang bergelut dengan janji dan rencana
Butir-butir nadzar menyambut matahari setiap kali terbit
Dan engkau menanggapinya dengan cinta. 

Langit biru tiba-tiba menghitam
Bumi tandus tiba-tiba menghijau
Semuanya tiba-tiba bergerak dan berubah
Fenomena pun berbalik tiba-tiba sukar dinalar
Semua tercengang iba dan rona melayu tiba-tiba.

Aku ajak mata hati menghayati diri
Berdamai dengan awan yang tak habis kupikir
Kemana ia akan bergerak dan segera berakhir
Untuk menjadi teguh mewarnai mimpi
Menjinakkan tuntutan akibat dari sebab yg dikuasai otak dan otot.
Selebihnya adalah milikmu

Jika mawar harus indah
Aku biarkan pesonanya tersimpan di bibir kumbang-kumbang
Karena duri dan semerbak itu adalah takdirku.

Jika nelayan harus melaut
Aku biarkan layar berkembang bersama angin
Sebab luasnya samudera itu adalah janjinya.

Jika malam harus dingin
Aku tinggalkan butiran embun pada rumput kering
Sebab basah itu adalah nasibku.

Aku tidak tahu bagaimana cara mengolah nasib
Memainkan dinamika nada nadiku
Mengatur irama detak jantung dan tempo aliran darah
Yang aku tahu hanyalah engkau ada di dalam tubuhku
Dan telah aku pasrahkan seluruhnya untukmu.

Oo kekasih...
Peluklah anganku di dalam genggamanmu
Itu lebih nikmat
Dari pada menggenggam angan di dalam pelukanmu
Lalu terjebak dan tertipu


Sumenep, 19 September 2021

Zaini Dawa
https://youtu.be/Uj5HTKc99YQ

Senin, 25 Oktober 2021

💞 SARANG CINTA 💞

💞 SARANG CINTA 💞

Karya: Zaini Dawa


Di sini, kurasakan ada getaran

nian mengharumkan jagat aksara

Aromanya tercium sampai ke lubuk hati

Menyemai senyum dari sisa sisa air mata

Di sinilah rembulanku purnama

Di sini pula kumaknai jingggamu sebagai peraduan malamku.


Di sisni..

Kutemukan sesuatu yang istimewa

Ada kemilau permata yang terhalang pelangi

Izinkan aku merajutnya dengan urat nadi

Agar mimpi-mimpi indah tak ngambang dibawa angin.


Bukalah pintu hatimu lebar lebar untukku

Dan jangan pernah kau menutupnya

Sebelum aku bangunkan tajmahal di dalamnya

Setelah itu tutup kembali rapat rapat

Biarkan aku sendiri di dalam

Aku takkan pernah bosan.


Dan lagi...

Jangan sekali kali kau berikan kunci brangkas hatimu kepada siapapun

Sama sekali jangan...

Karena sekali jatuh aku tidak akan bangkit lagi

Aku masih menganggap hatimu sebagai sarang cintaku

Sebagai peraduan hidup dan matiku


Sumenep, 22 oktober 2021

Senin, 11 Oktober 2021

Kalau Saja Kekasihku Sehat

Kalau saja kekasihku sehat
Dia akan memelukku erat erat
Dengan kehangatan cintanya dan rindu yang berat
Sebagaimana hangatnya rayuan
Dulu merdu berkicau bak burung burung menyambut pagi
Bersahutan menyihir telinga.

Kalau saja kekasihku sehat
Makan malamku pasti lebih nikmat
Suapan demi suapan jari-jemarinya
Menambah kelezatan
dan melumat kebuntuan jalan pikiran

Kalau saja kekasihku sehat
Dia pasti menjadi matahariku
Dia tak akan membiarkan sebutir embunpun
Terus menurus bergantung di bawah lengkung ilalang
Karena ia paling tahu kapan waktunya bertahan dan berjuang.
 
Kalau saja kekasihku sehat
Emak emak akan saling melempar senyum
Bisa memenuhi janjinya membelikan sepatu baru
Untuk anak anaknya yang menangis tengkurap di atas kasur.

Tapi sayang...
Kekasihku tidak sehat
Makan tidur di rumah sakit

Ooh kekasih...
Tidurlah dengan nyenyak
Biar kupegang tanganmu erat erat
Asal jangan kau bina aku dengan kata kata yang hina
Sebab aku bisa saja mengabaikan tidurmu
Dan menjadikannya sebagai malam yang paling mencekam.


Sumenep, 10 september 2021

Zaini Dawa

Rabu, 29 September 2021

JANGAN SEBUT DIA SETAN

JANGAN SEBUT DIA SETAN
https://youtu.be/zngAlSIwo-0
Berhentilah kau menyebutnya "SYETAN"
Sebab syetan sudah tak sendirian

Kejahatan demi kejahatan yang telah membuat setan marah
Mengerdilakan otak pekerja keras
Para pemikir dan penulis 
Para mahasiswa yang katanya kritis
Semuanya tidur pulas di kamar pengantin

Setan kota menyusup ke dalam pasar dan kantor-kantor
Ke dalam cafe, hotel, dan rumah sakit
Menyisir pelabuhan dan bandara
Para penakut benar-benar menakutkan
Para penakut pun benar-benar ketakutan
Menyerah sambil merumuskan nasib
Bagaimana bunga bisa berkembang di jambangan

Sementara orang miskin
Berteriak kesetanan mengadu pada takdir
Ini tubuhku yang tersesun dari rangka do'a iftitah
Jika harus mati
Biarkan terbungkus kafan berkalang tanah.
Jika harus miskin
Biarkan menjadi badut pasar malam.

Berhentilah kau menuding "SYETAN"
Sebab syetan tak lebih busuk dari yang menunggang punggung anak sendiri
Dan memakan bangkai saudara sendiri

Setan-setan itu semakin gawat menakut-nakuti
Setan kota Setan kampung
Setan kantor
Setan pasar
Berjemaah membangun kehormatan dengan baju yang yang dikeramatkan
Setan alas, setan gunung, setan laut, setan pasir, setan batu, setan jalan..
Buta matanya tidak lagi menyaksikan apa-apa
Tuli telinganya tidak lagi mendengar jeritan apa-apa

Karena itu.. 
Percuma kau memfitnah syetan
Sekarang mereka menjadi pengangguran



Sumenep, 25 september 2021

Zaini Dawa

Senin, 30 Agustus 2021

AKU BENAR-BENAR PAYAH

Aku yang bodoh
Tak perlu kau teriakkan pada langit
Pada bumi
Pada matahari
Pada pada rumput
Sebab kebodohanku berkaca pada bening matamu
Yang berbinar-binar hinggapi nada sumbang
Sementara tembang-tembang bernada cinta
Larut di dalam embun pagi yang sekejap lalu pergi

Matahari dan bulan bisa saja gerhana
Sewaktu-waktu kekaguman tak lagi saling jaga
Kuhilangkan rasa yang tak dimengerti emosi
Sekalipun kepasrahan terbakar api.

Begitu bodohnya aku menjadi lilin kecil di ruang sempitmu
Daging-daging yang kubanting meneteskan keringat kuning*
Penanggalan-penanggalan yang kuremas air mata yang menetes 
Aku tak mengerti kapan harus bernyanyi, menari, berhenti
Dan dimana harus menyembunyikan naskah dramedi ini..

Aku bukan tak sanggup melupakanmu hanya dengan sekali terpejam
Tapi...
Aku memilih melihatmu tersenyum lalu terpejam dalam dalam 
Daripada diam-diam menghilang lalu tenggelam ke dalam duka yang mendalam.


Sumenep, 29 Agustus 2021

ZAINI DAWA
________________

* peribahasa madura "keringat kuning" berarti keringat terakhir saat bekerja keras atau bisa dimaknai "puncak kelelahan


Senin, 23 Agustus 2021

RUMAHKU

Ini rumahku.
Di sini, tidak menghargai kejujuran
Enggan mengakui kehebatan
Gemar menutupi bukti-bukti kebenaran
Tegas dianggap melawan
Berpendapat dianggap sok hebat
Protes dianggap tidak waras
Memberi solusi dianggap menggurui.

Kalau hanya kesetiaan yang dibutuhkan
Buaya dan anjing pun juga tunduk dan patuh tuan
Kepada siapa saja yang memberi makan
Perintah apapun dilakukan
Menggonggong lalu makan
Menjaga lalu jalan-jalan
Dan menjilat lalu hajatan.

Rumahku yang megah sorganya penjajah
Selagi kecil dibesarkan lalu dicampakkan
Selagi bodoh dibina lalu dibinasakan
Aku dipaksa sakit tanpa gejala
Dipaksa gila dirumah sakit jiwa
Sementara suara-suara dari balik tembok
Terbahak-bahak sambil mencekik
Alunan musik meredam padukan suara
Sesekali tersenyum jarinya menunjuk kita-kitab di atas meja.

Ini rumahku...
Di sini sedang tidak baik-baik saja
Pahlawan kebenaran disumpal lalu dibuang
Kemudian barang-barang berharga menghilang
Satu-persatu dikeluarkan dengan paksa
Hanya tersisa tangisan wanita-wanita tua
Meratap kehabisan air mata memandangi baskomnya

Ini rumahku
Cangkul dan sabitku masih menggantung
Mau berladang sawah ditanami gedung
Mau berkebun tanah ditanami investor asing.

Perahu dan jaringku masih bersandar
Mau melaut laut dibajak.

Gerobak lapuk berkarat di halaman
Mau berdagang pasar dikuasai preman

Aku malu pada tetangga
Rumahnya kecil tapi bahagia.
Ini rumahku
sebenarnya rumah apa??

Sumenep, 22 Agustus 2021

Zaini Dawa

Sabtu, 14 Agustus 2021

BUAYA SATU MUARA

https://youtu.be/asa2xH_QzfA

Kau sebut aku pengecut...!?
Ku jawab "emang gue pikirin"

Kau sebut aku bajingan...!?
"Gue kagak peduli"

Kau sebut aku maling...!?
"Ahh.. masa bodoh"

Kalau aku tidak jadi maling
Aku mau jadi apa...???
Bayangkan saja...!!!
Ijazahku mahal
Meja kursiku mahal
Ongkos kendaraanku mahal
Suaramu juga mahal

Begitulah kehidupan pasar
Kamu jual, aku bayar
Kamu diam, makin liar
Kamu lapor, barang bukti kubakar
Kamu turun jalan, gelar aksi
Aku main hakim sendiri
Atau bahkan main hakim ramai-ramai.

Maka, buang saja telunjukmu jauh-jauh dari mukaku
Sebab, kami adalah buaya satu muara.


Sumenep, 09 Agustus 2021

ZAINI DAWA

Sumber inspirasi👇🏻
https://youtu.be/JotcWv-lZCg

Minggu, 25 Juli 2021

MALING-MALING BANGSAT

Link youtube: https://youtu.be/uN0-sHibUcI

Maliiinggg... maling maling
ada maling
Teriak maling...

Maliiinggg... maling maling
Laporkan maling
Menghukum maling...

Maliiinggg... maling maling
Maling beraksi
Korbannya gak peduli
Karena yang dicuri
Belum sempat ia miliki...

Maliiinggg... maling maling

Seberapa sering kau mengelabuhi dan sekaligus menyumpal mulutku
Sesering itu ingin kutendang kepalamu
Sebab kaki ini telah menginjak banyak balutan
Di setiap kematian oleh kata-katamu.

Paradok parodi parasmu predator berdarah dingin
Redam riuh
gemuruh bertabuh
Sekali beraksi seribu rakyat mati suri
Sekali hajar seribu rakyat kelaparan
Hukum tak berhati
Peraturan pun berduri

Jeritan-jeritan yang terdengar
Membuatku muak mual dengan segala kepahitan 
Sementara peraturan-peraturan bertabrakan
Melahirkan hantu-hantu bangsat di negeri ini
Dan kau tersenyum diatas mayat-mayat hukum dan hati nurani


Sumenep, 25 Juli 2021
Zaini Dawa

Jumat, 25 Juni 2021

LUBANG-LUBANG KECIL BEKAS GALIAN CINTAMU


Seperti musyafir..  
Tubuhku yang lapar mendatangimu dengan kepasrahan
Suapan demi suapan dari tanganmu telah melembutkan kata-kataku
Selembut lirikan matahari menyapa embun pagi
Menyusun tetes air menanggung di kepalaku

Kebodohan dan ketakutan yang membuatku seperti batu
Disisir gemuruh dalam sunyi
Menjadi rasa yang membongkar tubuhku dari kebekuan
Jiwa yang lunak menjadi tangguh
Jiwa yang rapuh menjadi kokoh.

Aku gali...
Engkau kugali dengan tujuh pasang tulang rusukku
Matahari tak kubiarkan meredup
Malam tak kubiarkan menyajikan gelap

Engkau bersembunyi
Aku mencari...
Bertahun-tahun lamanya kumencari 
Sampai menjadi petualang
Kugantung mimpi-mimpi di langit
Bermain petak umpet di antara planet
Ooo... mimpi-mimpi yang sungguh mengerikan

Aku terus mencari
Hingga kutemukan lubang-lubang kecil bekas galian cintanmu
Menembus celah-celah hitam di dadaku
Dan akupun terseruduk menjadi mangsa pergeseran nilai-nilai peradaban.

Mungkin bara lebih dingin
Ketimbang gemuruh cintaku
Mungkin saja gunung lebih ringan
Dari pada beban di pundakku.

Aku ingin mencintaimu dengan kekaguman dan kata-kata indah
Sebagaimana kata-katamu mengukir petuah
Yang tak mungkin pecah oleh perselingkuhan dan dramedi di negeri ini
Sebab hanya engkau yang mampu menata serat2 hati dan benang2 kecil di dalam otakku

$$$$$$
Akulah pemilik masa depan yang manis tak bergula
Dan senyum mafia-mafia berkalung tasbih
Mengukir setahun hancur seketika
Oleh cara pahit yang dimaniskan
Cara-cara busuk yang disegarkan
Dan cara-cara primitif yang diagungkan.
Oohh.. begitu pentingnya angka-angka di atas meja
Dan kertas-kertas di dalam laci.
Sementara huruf-huruf tak bermaksiat kembali ke jalan tuhannya.

Bendera-bendera berkibar meliuk bagai ikan dungu
Mungkinkah gelombang samudera
Menggeliat karena siripnya yang besembunyi di balik batu.

Jika oemar bakri seorang pengkhianat
Mungkin ia melahirkan koruptor dan bandit

Jika ki hajar dewantara seorang penakut
Mungkin saja ia melahirkan pengecut

Bandit melahirkan bandit-bandit
Koruptor melahirkan koruptor-koruptor
Maling melahirkan maling-maling
Dari lubang-lubaang itu.

Sumenep, 12 Juni 2021
ZAINI DAWA

LELAKI PECUNDANG

Aku seperti pengecut
Yang takut bersaing melawan liarnya angka-angka di luar sana
Katakan aku pecundang
Sayang...!!

Ketika mimpi-mimpi terlanjur tinggi
Sirine hidup meraung-raung dalam tubuhku
Dari kekaguman-kekaguman yang menyusupi puisi-puisiku

Aku telah merasakan dua kali melayang di pangkuanmu
Di pelukkmu

Lelahku seperti udara terhirup menjadi nafasmu
Dan aku nyaris gila dalam ruang gelap gelapnya percintaan

Ohh.. akulah pengecut itu


Sumenep, 28 April 2021
(Zaini Dawa)

Selasa, 11 Mei 2021

PUISI HARI RAYA AIDUL FITRI

HARI KEMENANGAN.

Telah kutaklukkan kemunafikan tanpa rasa takut.
Telah kutaklukkan kesombongan dengan rasa lapar dan haus.
Bukan dengan argumen.
Bukan dengan kekuasaan.

Kini,
Kita telah terpisah dengan bulan suci romadlan

Berteriaklahhh...
Sehebat rasa sakitnya daging terkuliti
Karena terpisah dengan kekasih

Menjeritlah...
Sedahsyat mayat-mayat dalam kubur
Merinding karena teriakan kemenangan
Pecah di bibir anak cucu mereka.
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Wa lillahilhamdu...

Sumenep, 11 Mei 2021

Zaini Dawa

Senin, 26 April 2021

TAKJIL

Seperti rindu yang terpenjara
Perjumpaan yang dimimpikan
Menggeliat hebat mengguncang dada

Cintaku karena kasihmu
Hingga ku abaikan corong-corong yang tegak menghadap ke barat dan ke timur.
Dan lagu-lagu merdu yang berteriak-teriak memanggil namamu
Sebab aku tahu engkau lebih dekat dari urat nadiku.

Sepantasnya aku malu
Dan aku lebih memilih malu
Dengan rasa rakus yang menguasi benak beringas seperti penganten baru
Untuk kau hajar kerak-kerak hitam di tubuhku.

Seperti terbuai kenikmatan
Dan tatapanmu yang meneteskan madu
Telah mengacak-acak otak dan pikiran
Sebab tajalliku menggereget dalam takjilku.

Sumenep, 27 April 2021

Zaini Dawa

AIR MATA TERAKHIR

Mendung apa gerangan di balik hujan air matamu
Menderu seolah-olah esok tidak ada lagi matahari.

Engkau datang mengadukan nasib air mata
Menghakimi kekalahan-kekalahan yang menindas isi kepala
Menanggung semua rasa yang terselip diantara dua luka
Dan kau ingin menukarnya dengan retaknya do'a do'a.

Diantara kita tidak ada dusta
Tidak ada kecewa
Tiba-tiba ruang tersekat dan waktu terhenti
Pada saat debur-debur darah segar mengguncang mimpi

Kalau saja mereka mengerti pemberontakan
Cukup dengan setetes air mata
Dunia ini akan tenggelam ke dalam nestapa
Nyatanya...
Air matamu tetap saja menggenangi pangkuan.

Baiknya kita berteduh di bawah takdir
Bukan menyumpahi pertemuan-pertemuan yang kini terkapar
Dan menjadi risalah air mata terakhir
Karena kekalahanku adalah seni membuat titik bergetar.

Sumenep, 26 April 2021

Zaini Dawa

Jumat, 19 Maret 2021

CEMAS

Aku tulis namaku disini
Di atas pasir menanti datangnya matahari
Meyakinkan gelombang perjalanan batin
Perihal ngiang tawa dan air mata seperti angin

Rasa ini terdiam dalam meditasi bunga
Bertaut pesona mawar, pun juga duri-durinya

Daun-daun tertiup angin
Bergesekan menyampaikan riuh
Mengisyaratkan nada rintih

Tak ada yang berpijar dari gelapnya malam
Tak ada yang terpancar dari kedapnya sekat terpendam

Dalam meditasi itu...
Daun-daun runtuh dan terlepas
Terhempas angin berkuntum cemas


Sumenep, 190321
Zaini Dawa

Sabtu, 27 Februari 2021

ZAMAN BATU

Engkau yang terlahir dari batu
Ditempa manusia-manusia batu
Tanduk berpamor
lidah becabang
Menyepuh paku
pada batu-batu kampung.

Engkau telah menjadi batu.
Kembali melahirkan batu 
Sejak zaman dahulu
Dan hari ini masih zaman batu.

Ketika manusia pilihan menjadi batu
Diagungkan manusia-manusia batu
Tidak ada lagi benih bunga-bunga disemaikan
Tidak ada lagi kitab-kitab dimunculkan
Keadilan disesuaikan dengan selera
Aturan dimainkan sesuai rencana.

Ketika manusia pilihan menjadi batu.
Diagungkan manusia-manusia batu
Hilang akal sehat
Hilang budaya
Hilang norma
Kedzoliman berbaris rapi dihadapan batu-batu
Semuanya membisu
Semuanya membatu
Seolah-olah itu biasa
Sebab sama-sama
memiliki cerita
yang sama.

Hari ini...
Bangsa menghadapi zaman batu
Zaman yang penuh keruwetan
Zaman yang penuh kerepotan
Bangsa-mana yang tidak ketakutan
Menyaksikan kekuatan mengundang keributan
Dan kekuasaan memancing perselisihan

Oo.. zaman batu
Kau akan hancur di tangan orang gila
Orang yang tidak takut dihantam batu
Tidak pula manusia-manusia batu
Dia datang bersama pengembala ranting
Juga batang-batang pohon kering
Punya nyali membakar puji
Bongkar pengkhianat bakti
Tanpa senjata
Tanpa azimat
Tanpa prajurit
Lidahnya berapi
Ucapannya terbukti
Membangkang berani mati.

(Zaini Dawa)

Sabtu, 09 Januari 2021

ANUGERAH TERISTIMEWA

(Karya: Sekar langit)

Dalam gerimis yang sepi
Aku laksana seloka saat aksara rindu tawarkan cinta sebagai hantaran sendu di setiap baitnya. 

Rasa terbungkam
Dan mata angin menjadi segala arah pencaharian resahku.
Ketika kalbu menanyakan jalinan kisah perihal kita

Sedang ritmik hujan telah teteskan harap dimana kau menjadi butiran imaji dalam setiap rindu yang basah. 

Aku mencintai mu dengan pijar cakrawala yang kugantung di langit jiwa.
Dan mengikuti waktu tanpa ragu menunggumu kembali

Berharap 
Engkau menggenapkan puzzle cinta yang telah kita susun bersama

Rindu ini masih sumbang tanpamu ....
sebab kepergianmu menorehkan sunyi di malamku

Kepadamu 
Dengarlah suara hatiku.

Bahwa hanya engkaulah anugerah teristimewa, dalam hidupku.

ANUGERAH TERINDAH

(Karya: Zaini Dawa)

Hari-hari berlalu dengan kebisuan
Malam-malam pun terjebak kegelisahan
Gemericik sabda jiwa
Merongrong do'a
Menyusun serat-serat cinta
Pada dedaunan yang dimainkan rintik rindu
Semakin tulus kubenamkan rasa.

Hasrat menari di atas mahkota bunga
Rasanya tenggelam ke dalam serbuk sari bermadu
Burung-burung berkicau merdu nan syahdu
Iringi kegilaanku yang hanyut bah tirta nirwana.

Alunan kasih mengalir menjadi dzikir
Mengurai penat penuhi ruang langit
Ditemani melodi cinta temui bintang-bintang
Karena esok akan kembali dengan cahaya yang ditempa pada rembulan.

Percayalahh...
Telah kulabuhkan ikrar pada sekuntum bunga
Untuk sekeping puzzle yang diambil dari patahan rusuk
Sebab jantungku tak mungkin berdetak
Hanya dengan satu rasa
Begitu pula dingding hatiku
Takkan pernah indah tanpa lukisan cintamu.

Sejuk mata rembulan
Teduh di pelupuk mata
Engkau tak perlu gelisah
Sebab engkau adalah anugerah terindah
Adaku karena cintamu
Adamu adalah rinduku.

SILSILAH ZAINI dari jalur ibu

Silsilah Dari Pihak ibu POTONAH PORBAYA + MARDIYAH 1. Patma  2. Sadduna 3. Sa'ina (ma'iye) + Mukin      1. Ma'iyeh           1. ...