Selasa, 28 Januari 2020

SAHABAT DUNIA MAYA


(By: Zaini Dawa)
Tak setetes pun darahku mengalir di nadimu.
Tak sehelai pun benang guritaku mengikat di tubuhmu
Engkau yang jauh disana
Entah dengan siapa
Santun sapa riuh bersimpul di layar kaca
Kadang aku tertawa lalu diam
Kadang aku jengkel lalu tersenyum
Sendiri..
disini..
Cerita ini terbangun tanpa rencana
Bersamamu...
Tak perlu tempat untuk berjumpa
Tak butuh waktu untuk bercinta
Cukup dengan satu rokh puisiku saja
Bisa ku hembuskan beribu kisah nyata
Tentang pertemanan matahari dan bumi
Yang melahirkan serpihan-serpihan pelangi
Indah penuh sensasi
Melengkung jadi rusuk cakrawala
Mewarnai ragamnya peradaban dunia

Sabtu, 18 Januari 2020

NEGERI JANGKRIK


Karya: Zaini Dawa
             Madura
             23 desember 2019
Kisah seekor kancil di sebuah republik dongeng
Ceritanya menggelikan anak kecil
Ia tertangkap basah mencuri mentimun
Pak tani geram
Membidik maling besar di lubang jarum
Si kancil malah tersenyum
Pak tani terbuai kagum
Sandera tawa menawan tenggang rasa
di lantai abdi tahta menyapu bersih kotoran telinga
Mencuci tangan di dalam kantong plastik
Senyum berpapasan dilirik mata jangkrik
Mereka berbisik seramah adat ketimuran.
"Ello ngerti gue paham"
"Ello diam kita makan"
"Ello teriak gue hantam"
"Ello maksa kita busuk bersama"
Aku butuh selembar pinta
Dan engkau punya selipat dusta
Pangkas sini tilap sana
Lalu kau sembunyikan di dalam saku celana
Seribu cara kelabuhi daya dan upaya
Ahh... itu tidak apa-apa,
yang penting kita bisa berleha.
Kita kenyang biarlah mereka berpuasa
Kesepakatan tak bermatrai
Tersembunyi megah di balik tirai
Saksi mata dibuat gerah kepanasan
Perintah dan larangan, janji dan ancaman
berputar-putar mencari pentilasi
di ladang reputasi birokrasi
Media massa menelanjangi mata manusia
Kitab dan undang-undang dibiarkan tersingkap terbaca angin
Hingga mata tak lagi lihai memainkan pena di udara
Sebelas dua belas tikus dalam gudang raskin
Pengawas dibikin waswas
Petugas disuntik beringas
Pengacara banyak cara
Penguasa makin leluasa
Rakyat jelata tetap saja melata...
Lunas boss..

Minggu, 05 Januari 2020

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih

Misalnya menulis “Malam penuh bintang,
dan bintang bintang itu biru dan menggigil di kejauhan.”
Angin malam berputar di langit sambil bernyanyi.

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih.
Aku pernah mencintainya, dan kadang dia pun pernah mencintaiku juga.

Di malam-malam seperti ini dulu, kurangkul dia dalam pelukanku.

Kuciumi berkali kali di bawah langit yang tak berbatas.

Dia pernah mencintaiku,
kadang-kadang aku pun mencintainya.

Bagaimana mungkin bisa tidak mencintai matanya yang indah dan tenang itu.

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih.
Karena aku tak lagi memilikinya. Karena aku telah kehilangan dia.
Malam begitu mencekam, tambah mencekam tanpa dirinya.

Dan puisi masuk ke dalam jiwa seperti embun ke rumputan.

Tak apa kalau cintaku tak bisa menahannya.

Malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.

Begitulah.
Di kejauhan, seseorang bernyanyi.
Di kejauhan.
Jiwaku resah kehilangan dia.
Seolah ingin menghadirkannya,
mataku mencarinya.
Hatiku mencarinya,
dan tak ada di sini dia.

Malam yang itu-itu juga,
membuat putih pohonan yang itu-itu juga.

Tapi kami tak seperti dulu lagi.

Aku tak lagi mencintainya,
itu pasti,
tapi betapa cintanya aku dulu padanya.
Suaraku menggapai angin biar didengarnya.

Milik orang lain.
Dia akan jadi milik orang lain.
Seperti dia dulu milik ciuman-ciumanku.

Suaranya,
tubuhnya yang indah.
Matanya yang dalam.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku mencintainya.

Cinta begitu singkat dan lupa begitu lama.

Karena di malam-malam seperti ini dulu kurangkul dia dalam pelukanku,

Jiwaku resah kini kehilangan dia.

Walau ini derita terakhir yang dibuatnya,

dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya

Karya:
Pablo Neruda
Peraih Nobel kesusastraan
https://youtu.be/YG5hm6axJGM

RAPUH

Puisi Prosais (Zaini Dawa) Bisaku tawar dalam sunyi Lenyap sapa ronta aksara Tampak rupa kurasa hilang kujaga Betapa rapuhnya aku menanggung...