Sabtu, 22 Agustus 2026

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH
Zaini Dawa 

Jauh jauh mendekat
Dekat dekat menjauh
Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap
Hilang ditelan asap putih lalu tampak jelas
Duaarrrr
Tiba-tiba mengagetkan lalu menghilang
Dasar kuntilanak
Bila jauh otakmu sinting
Bila dekat tubuhku merinding

Telah kuasapi kemenyan setungku
Aroma dupa menyeruak menusuk gelapnya malam
Mantra-mantraku merayu bulan yang pucat menyeramkan
Menenangkan roh yang tidak dikehendaki bumi dan langit
Benar-benar kau kuntilanak merah yang keras kepala
Aku kira akan menyerah
Malah gentayangan dengan tertawa kecil dan puisi romantis
Memanggil nama yang tak pantas terucap kecuali dalam doa

“Oh sayangku, kemarilah!
Bawalah aku bersamamu.
Aku akan menjaga tidurmu
Menjadi orang pertama yang kau lihat
Mengawali hari-harimu dengan senyum
Setiap subuh kita sholat berjemaah
Kamu imamku
Aku mau sujud bersama di sampingmu”

Hey kuntilanak merah
Duniamu ditakdirkan seindah-indahnya takdir untukmu
Duniaku kacau penuh kecemasan
Kumuh berbau penuh jentik penderitaan
Jika kau paksakan 
Ragamu tak akan bertahan sampai tiga kali matahari terbit
Terik matahari akan mengungkap misteri kecupan-kecupan di sudut kegelapan
Sementara kelambu yang kau bentangkan bertaruh nyawa melawan desir angin
Engkau akan hancur menjadi seusap debu dibalik baju pengantin
Tawa kecilmu akan menjadi penderitaan terbesar sepanjang hidupmu

“Oh cintaku, aku rela menjadi apa saja
Bersamamu aku rela menjadi sebutir debu
Bahkan rela menjadi babu
Asalkan di bawah satu atap yang sama
Aku tak peduli kebahagiaanku dirampas perbedaan status
Sebab melihatmu saja aku sudah bahagia

Kau yang keras kepala tidak pernah mengerti isyarat semesta
Bagaimana daun-daun dijatuhkan takdirnya angin
Bagaimana matahari akhirnya lenyap ditelan senja sesaat
Bagaimana pesona bintang kejora berakhir di ujung fajar
Apa kamu masih berharap ada gelas pecah sehabis bersulang
Bukakah cinta harus indah pada tempatnya
Juga harus suci mengalir dalam pikiran

Aku hindari petaka dengan diam menahan kenyataan
Mengurung diri di tempat sakral yang gelap mengerikan
Aku korbankan rasaku sebagai tumbal
Tulus kupersembahkan atas nama cinta

“Tidak
Aku tidak butuh tumbal
Aku tidak butuh persembahan apa-apa
Aku butuh cinta untukku
Jika semesta tidak mendukung
Aku akan minta pada tuhanku untuk menyerahkan jiwamu padaku”

Otakmu terlalu sempit memaknai cinta
Duniaku bukan tempatmu
Terlalu keras untuk bangsa lelembut
Terlalu lembut untuk manusia keras kepala
Hitam dan putih terlalu kentara berbeda
Tidak mungkin ada kelabu di antara kita

Sumenep
05 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...