Jumat, 06 Desember 2019
Senin, 18 November 2019
" AIRMATA NEGERI "
AIRMATA NEGERI
Karya : Chan Pruman, Si anak hilang
Airmata itu mengering di pelupuk senja
airmata itu tertahan di rongga dada
airmata itu tak ada lagi di pipi
menumpuk lirih menyayat hati
kau begitu pulas dipembaringan biru
berleha di atas lara yang menganga
tersenyum lebar dalam kepuasan semu
tak peduli dengan segala luka
itukah bias dari jerih lalumu
yang dulu berpolos laku pada kaum jelata
untuk menampuk kuasa dengan berbagai rayu
setelah duduk kau melupa rasa
lihat
lihatlah dengan seksama
pohon pohon legam terpanggang api ambisi
asapnya mengepul menyesak napas jiwa
buku buku basah
mengendap di almari pustaka tua
perlahan memudar di makan zaman
kemudian sekelompok rayap gersang leluasa melahapnya
para pemikir sibuk dengan keresahan alam
bocah bocah berkais menjadi penakluk malam
belia hijau turun mencium aspal
tak ingin negeri berakhir tanpa judul
di mana airmatamu sang piningit
yang katanya titisan dewa
tidakkah kau merasa pilu
melihat pertiwi berkubang sembilu
wahai para adikuasa
negeri ini perlu airmata
tapi tidak akan membuangnya diperaduan dusta
airmata ini adalah airmata negeri
Selasa, 22 Oktober 2019
RINDU BERAT
Kupinjam deru ombak
Yang selalu gemuruh mewakili nyanyian tembang tua di wajah-wajah pemulung.
Untuk merangkulmu.
Kupinjam birunya langit
Yang tak pernah runtuh menanggung beban awan hitam dicambuk halilintar.
Untuk memujimu.
Kupinjam desir angin
Yang tak pernah diam mengalir ke jantung butiran embun di ujung tanduk ilalang.
Untuk menjumpaimu.
Ku pinjam bahasa cinta untuk menyapamu.
Ku pinjam bahasa rindu untuk memelukmu.
Ku pinjam bahasa kekasih untuk merebah di pangkuanmu.
Ku pinjam bahasa ibu untuk mengecupmu
Darahku serupa air terjun
mengalir deras mengingatmu.
Nafasku serupa badai
berhembus kencang menyebutmu.
Jika mereka bahagia
karena pernah berjumpa
Bagaimana denganku
Yang tak pernah bertemu
Tapi. Menyimpan rindu.
Akulah manusia yang paling gila.
Paling mabuk cintamu.
Paling tidak tahu malu mengharap tali kasih.
Sementara tanganku hanyalah pasak tiang rapuh.
Yang tak pantas engkau cintai.
Namun...
Aku tidak sanggup bila kau abaikan.
Apalagi kau benci
Ku tanam asa di dasar hati.
Sedalam kasihmu menombak debu kemarau di musim kerontang.
Sedalam laut menelan berjuta mutiara ditusuk konde nenek moyang.
Sedalam mata hatiku yang bergetar-getar menunggu kehadiranmu.
Ku sempurnakan cintaku pada setiap helaan nafas.
Tegar merayumu di setiap kedipan mata.
(Zaini Dawa)
02'11'19
Sabtu, 28 September 2019
SEPATUMU PAK
Pak...
Berapa harga sepatumu pak??
Boleh aku beli 10 juta??
Seharga boneka mainan anak-anakku
Berapa harga bajumu pak??
Boleh aku beli 200 jt?
Seharga sawah dan ternak yg dulu kau jual
Berapa gajimu sebulan pak???
Biar kubayar sekaligus seumur-hidupmu
Lalu enyahlah kau dari sini
Enyah...!!
Enyahh kau setann...!!!
Pergi jauh dari hadapan kami
Prestasi apa yang kau cari dari
Carilah negeri lain, bukan disini
Masjid adalah baitullahhh, bukan tempat prostitusi
Yang bisa kau injak-injak keluar masuk tanpa permisi
Masjid adalah tempat sujud kami
Yang tentu lebih suci dari pada karpet penglima tertinggi
Lebih terhormati dari pada senayan yang berbau WC
Lebih mulya dari pada istana pelacur institusi
Bagaimana aku mempercayaimu sebagai penegak hukum dan keadilan
Bila pemicu konflik kau nyalakan
Kami tidak pernah masuk sebelum mengetuk rahmatNya
Kami tidak pernah duduk sebelum sujud padaNya
Tiba-tiba kau terobos ideologi kami
Kau injak-injak harga diri kami
Kau lukai hati kami
Sungguh ini penghianatan jabatan
Provokator bertopeng keamanan
Rabu, 18 September 2019
Dewi Shinta Adalah anaknya raja alengka Rahwana
Mengenal Sosok Wayang Dewi Shinta
Shinta merupakan puteri dari seorang bidadari bernama Batari Tari atau Kanun isteri dari Rahwana. Konon, Shinta adalah titisan dari Btari Widawati istri dari Dewa Wisnu.
Pada bulan ke-7 Kanun yang tengah “mitoni” kehamilannya, tiba-tiba membuat geger istana Alengka, lantaran bayi yang dikandung itu diramalkan oleh beberapa pendeta yang ada dalam pesta, bakal jadi “isteri” Rahwana (ayahnya sendiri). Rahwana naik pitam. Ia bangkit dari singgasananya serta berkeinginan memenggal kepala Kanun. Namun sebelum terwujud tiba-tiba Rahwana membatalkan niatnya karena berpikir siapa tahu anaknya akan menjadi anak yang cantik. Dengan demikian, diapun akan bersedia untuk menikah dengannya.
Benar saja, dikala Rahwana tengah dinas luar, permaisurinya melahirkan seseorang bayi wanita dengan wajah yang amat cantik bercahaya laksana bulan purnama. Wibisana (adik Rahwana) yang suci serta penuh dengan perikemanusiaan itu, selekasnya mengambil bayi itu serta dimasukkan ke dalam ketupat Sinta, lalu dilabuhkan ke dalam sungai. Cuma Dewa lah yang dapat menolongnya, begitulah pikir Wibisana. Ia selekasnya membuat mega mendung yang hitam menjadi seseorang bayi lelaki yang nantinya bakal bernama Megananda atau Indrajit.
Syahdan seorang pertapa bernama Prabu Janaka dari negeri Mantili, memohon pada dewa supaya dianugerahi keturunan. Begitu terkejutnya dia saat membuka mata, mendengar tangis bayi dalam ketupat yang sedang tenggelam terapung di sungai. Bayi itu diambilnya dengan senang dibawanya pulang diangkat sebagai anaknya. Lantaran bayi itu diketahui berada didalam ketupat Sinta, maka ia diberinya nama Sinta. Setelah berusia 17 tahun Sinta membikin geger semua pemuda, baik taruna-taruna dalam negeri ataupun luar negeri karena kecantikannya.
Suatu hari, dibuatlah sayembara. Siapa saja yang dapat menarik busur raksasa pusaka negara Mantili, akan menjadi jodoh Sinta.
Ramawijaya yang tengah berguru pada Brahmana Yogiswara, disarankan untuk mengikuti sayembara. Jelas saja, Rama sukses, lantaran ia merupakan titisan Wisnu . Pertunangan serta perkawinan sekalian disemarakkan dengan pesta pora, baik dinegeri Mantili ataupun di Ayodya. Tetapi nasib kurang baik untuk mereka berdua, ketika menikmati bulan madu, tiba-tiba mahkota kepunyaannya diminta oleh Kekayi, ibu tiri Rama.
Dasarata Bapak Rama disuruh agar menyerahkan mahkota pada Bharata (adik Rama). Selain itu Rama, Sinta dan Laksmana mesti meninggalkan istana masuk rimba belantara selama 13 tahun lamanya.
Dalam pembuangan di rimba, Sinta tidak kuasa menahan hasratnya untuk menguasai Kijang Kencana yang menggodanya, yang tidak seharusnya dipunyai oleh seseorang yang tengah prihatin. Apa yang gemerlapan itu, awal mulanya disangkanya akan membahagiakan dirinya, namun malah sebaliknya. Bukan hanya Kijang Kencana yang bisa ditangkap, namun terlebih ia di tangkap serta ditawan oleh nafsunya sendiri, yang diwujudkan dalam bentuk Rahwana. Secara singkat ia diruda paripaksa, dimasukkan sangkar emas di Alengka lebih kurang 12 tahun lamanya.
Suatu saat, Rahwana berhasil dikalahkan oleh Raden Ramawijaya, hingga terbebaslah Dewi Shinta dari belenggu Rahwana.Namun, tidak hanya sampai disitu saja penderitaan Shinta. Setelah terbebas, dia masih dicurigai kesuciannya oleh suaminya sendiri Ramawijaya. Maka untuk menunjukkan bahwasanya sepanjang dalam penguasaan Raja Alengka itu Sinta belum ternoda, Shinta membuktikan diri dengan terjun kedalam api. Oleh para dewa kahyangan, Shinta diselamatkan dari amukan api yang berkobar. Loloslah Shinta dari ujian kesucian.
Dari cerita tersebut diatas, dapatlah ditarik kesimpulkan : bahwa orang yang mengejar sesuatu hal hanya dengan mengandalkan hawa napsunya dan tidak waspada, maka apa yang dia anggap akan membahagiakan dirinya itu malah justru akan mencelakakannya. Walahualam bishawab.
Minggu, 15 September 2019
BILA MONEY POLITIK DI HALALKAN
Berdandan di langit
Berkaca pada air laut
Menghiasi diri dengan polesan citra
Aroma senyum terlempar ke jantung udara
Menutupi cahaya matahari dan lubang-lubang revolusi
Kesedihan binatang melata meneteskan air mata dua kali
Diguncang degup jantung bumi yang bergejolak di dalam perut ibu pertiwi.
Sepayah ini kah bangsa ini..!!?
Bila tidak ada yang lebih mewah dari pada cabang lidah
Cerita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Tersembunyi azas bilah bambu di semak-semak belukar
Sebodoh ini kah bangsa ini..!!?
Bila bendera menancap di ubun-ubun menusuk sendi-sendi kerabat
Meregang ikatan tali kasih yang erat merekat
Hingga tulang-tulang lebih renyah dari pada daging
Permusuhan tumbuh subur di setiap pagelaran pesta demokrasi
Linggis tegak mencari solusi
Celurit meliuk keluarkan resolusi
Semiskin inikah negeri ini..!!?
Bila money politik dihalalkan
Rakyat kecil makan raskin
Panguasa makan semen
Harga murah di mulut mahal di timbangan
Lantaran memperjual belikan takdir
Seharga nasi bungkus di trotoar
Separah inikah negeri ini..!!?
Bila penjara lebih mewah dari pada rusunawa
Hingga lapas lebih menjamin kemakmuran kolega...
Rekan kerja...
Sahabat dan keluarga...
Oohhh bangsaku, bangsa Indonesia...
Menangislah..!!
Selagi air mata mampu menggoyang rumput yg tak diharapkan tuan-tuan berdasi
Berteriaklah...!!
Selagi suara mampu menahan luka
tancapan batang bendera di rumah kura-kura
yang dikibarkan politisi di ubun-ubun kepala
Menjeritlah...!!!
Sekuat amarah menekan kebebasan bersuara
Seribu delapan ratus hari jalani tapa brata
Untuk menyumpal janji-janji mulut sumur tua.
Link youtube👇
https://youtu.be/VvNNNUUYSD4
Tumitmu
Dengan melihat tumitmu
Matahari menjadi terang
Langit menjadi cerah
Bulan menjadi purnama
Laut pun bergelombang
Tumpah ke bibir pantai
Menjadi air liur manusia-manusia lemah
Apalagi menatap kerlingmu yang anggun
Di sudut bumi dan langit
Karya: Zaini Dawa
KUNTILANAK MERAH
KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...
-
SEBUTIR DEBU (Zaini Dawa) Hey, rembulan biru Aku datang dengan cinta berembun Berebut pagi yang jujur dan lembut Dengan napas yang selalu ba...
-
SAJAK BERLUMURAN MADU Dengan menyebut namamu Aku tulis puisiku seharum napas bunga Aromanya menyeruak ditebar angin barat Kau be...
-
KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...
