Sabtu, 30 Maret 2019

Orang gila yang sesungguhnya gila

Mengutip sebuah status di face booknya aida yg diambil sebuah site ISLAMEDIA.ID.

Di status dan kolom komentar tersebut mengisyaratkan bahwa orang yg mengalami "gangguan jiwa" adalah org "gila" dan tidak memiliki hak yang sama sebagaimana manusia pada umumnya.

Selama ini kita terjebak wacana KPU yg dipolitisir oleh sekelompok organisasi yang tidak sejalan dan cengderung merugikan kelompok tertentu.

Benarkah orang gila harus diasingkan? Diperlakukan berbeda dg manusia yg lain? Nah. Sebelum menentukan jawabannya. Ada baiknya dipahami dulu pengertian orang gila sekaligus pandangan islam terhadap orang gila.

Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadis) sebagai berikut:

Pada suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka:

“Mengapa kalian berkumpul disini?,” tanya Rasulullah.

Para sahabat pun lalu menjawab, ‘Ya Rasulullah,  ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.”

Oleh karena itu, Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Sesungguhnya orang ini tidaklah gila (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila (al-majnuun haqqul majnuun)?,“ Rasulullah kemudian balik bertanya.

Para sahabat lalu menjawab, “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya,” jawab para sahabat.

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan bahwa, “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu, orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah sedang mendapat musibah dari Allah.”

Itulah penjelasan Rasulullah SAW mengenai orang yang sebenar-benarnya gila. Hadis ini memberikan pelajaran bahwa orang gila bukan lah orang yang dianggap sebagai orang yang hilang akal, melainkan adalah mereka yang sombong.

Dalam hal menentukan pilihan pemimpin. Baik DPR, DPD dan PRESIDEN. Seorang yg selama ini dianggap gila masih punya hak untuk menentukannya. Namun hak itu bisa dialihkan atau diwakilkan kepada ahli waris atau penanggung jawabnya.

Negara masih menganggap orang yang memiliki keterbelakangan mental/ gangguan jiwa sebagai Warga Negara Republik Indonesia (WNI). iktikat baik negara ini dibuktikan dg didirikannya Rumah sakit jiwa lawang surabaya dan panti-panti lainnya serta memberikan kesempatan utk ikut menentukan pilihannya sendiri.

Selasa, 26 Maret 2019

BUMIKU DI MUSIM SAWERAN

Bumiku berbisik pada rumput yg bergoyang
Tentang rupa yg menghilang
Sebelum bendera dikibar setengah tiang
Mantra kemenyan tercium roh nenek moyang
Mengepul di bias malam
Berasap api dalam sekam
Membara dipundak cucu sakera
Baunya anyir membusuk berbagi neraka.

Kibas-kibas selendang bertabur pandang
Gemulai Mengikuti tabuhan gendang
Sinden menari menyusuri permainan
Menebus mahalnya harga senyuman
Saweran berbunga mawar
Bersemi menyerang fajar
Dalam sapa bertaruh mahar
               Teror
               gempar
               Menggelegar
               Duaaarrrrr....
Rekayasa memaksa berpura-pura
Terpojok dihimpit beratus sabda
Hari ini diundang
Besok lusa terbuang.
Burung-burung riuh berkucau berebut tetes air hujan
Yang dijanjikan guntur silam kehausan
               Taruhan
               Suguhan
               Hadiah
               Sedekah
Melebur menjadi seliut saweran
               Wallahu A'lam....

(Karya: Zaini Dawa)

Rabu, 13 Maret 2019

TiTiK

Titik mengantung di ujung rerumputan
Berayun kembang meliukkan dahan
Memacu langkah gesitnya bertingkah.
Terus melaju tanpa jeda
Melesat...
Hingga sampai ke titik jenuh
Dan...
Mengering...
Di titik darah penghabisan
Sebatang rusuk patah
Berpura-pura lenyap dalam genggaman

Tik titik tana liyut pocettah koddhuk
Titik terdiam menggumpal di akhir kata
Mengurai huruf-huruf yang pernah tercipta
Mengeja sebuah nama yang merimbun bunga
Dan melilit di sudut bibir dan retina.

Tik titik tana liyut pocettah koddhuk
Titik-titik menetes jadi air mata
Lalu tumpah jadi samudera
Menyibak misteri Adam dan Hawa.

Akhirnya...
Titik menjadi terang...
Bahwa engkau adalah titik terlarang...
Dan
terindah, TITIK.

(Karya: Zaini Dawa)

Senin, 18 Februari 2019

AKU DAN PUISIKU

Karya: Zaini Dawa.

Kalau saja...
aku tulis puisiku pada lembar mahkota bunga
Cacing-cacing tanah menghayal bisa terbang.
Kalau saja...
aku tulis puisiku pada dinding purnama
Bintang-bintang kecil menyusup ke tubuh kunang-kunang.

Tapi...
Ku sajak alam semesta
Ku tulis pada tulang-belulang manusia
Yang berserakan diantara etika dan logika
Lalu jemarimu pagari mata hati dan telinga.

Jika kau sangka aku buaya darat
Seribu bidadari-pun bisa aku dapat
Hanya dengan sepotong puisi
Bila aku sudi...

Senin, 04 Februari 2019

CINTAKU YANG REMUK

Karya: Zaini Dawa

Ku rebahkan tubuhku
yang rapuh oleh kalutnya waktu
Berguling butiran keringat malam 
Berdenyut nadi di ruang senyum

Imajinasi menetes di lorong-lorong mimpi
Rengekan pintu tua bernada pilu
Saat ku coba bernyanyi mengusir sepi
Syairkan cinta yang remuk di hari ulang tahunku

Nyanyian sendu ramaikan dunia
Lagu-lagu rindu mengajak bernostalgia
Irama detak jantung mengguncang dada
Sekeras halilintar menukik di ubun-ubun cerita
Lalu aku belur lunglai tak berdaya.

Sabtu, 02 Februari 2019

TERTAMBAT PENGHIANATAN

Karya: Zaini Dawa

Di dindingmu berjuta lukisan janji
Gambarkan indahnya hajatan
Lalu kau cabik-cabik kembali
Karena ngeri bayangan yang dirindukan

Tembok beku enggan mengemakan suara
Suara yg pekak oleh pekik sesumbar
teriakan keras dari atas mercusuar
Menyambar perselingkuhan berbunga tujuh rupa

Sekuntum bunga jadi rebutan
Bunga-bunga yang lain terinjak di bawah meja makan.
Tertekan disandera kekalahan
Menjerit terhimpit rayuan setan

Tentangmu coretan buram tak bernafas
Tak mungkin selongsong paku menggores
Kecuali matahari tak lagi bergantung
Di atas langit retak kemarau menggulung

Minggu, 27 Januari 2019

CEBONG vs KAMPRET

Buka mata lebar-lebar
Anak cucu ibu pertiwi sedang bertengkar
Memanas lava berpijar
gunung-gunung berdengus tertampar
Kilau-gemilau lampu panggung pilitik
Ombak laut badai tertarik
Menyaksikan pertunjukan sirkuit
Saling serang menjatuhkan diatas karpet
Adu konsep dan segala macam taktik
Pertunjukan yg sangat menarik

Cebong-cebong versus kampret..!!
Saling laknat... Saling hujat... Saling sikat
Isu agama samurai pembunuh paling mematikan
Cingcang peradaban, budaya, dan keyakinan

Saling pasang jerat..
Pada ngaku hebat
Untuk memikat hati rakyat
Padahal sama keparat...
penjilat sol sepatu mengkilat...

Katanya demi rakyat
Nyatanya bakar otak rakyat
Alih-alih seruan jihad
Nyatanya perebutan pangkat
Masyarakat awam diadu jidat
Darah panas memuncrat
Mata melotot ludah berjiprat

Pesta demokrasi mestinya besenang-senang
Bukan saling jotos saling tendang.
Tunggu saja...
Gunung akan bergetar bumi bergoncang
Menyumpal mulut-mulut lancang

Rakyat terjangkit bakteri politik
Di warung.. ladang.. pasar.. kantor.. pesantren..discotik
Semuanya riuh seperti kandang itik
Mereka yang buta jadi fanatik
Mereka yang beda jadi konflik

Rakyat jelata... jadi lata..
Wong cilik... jadi picik..
Lucunya tuh...
Yang pandai... jadi tupai
Yang intelektual... jadi kadal
Yang kiayi ... terlilit tali..

Hei cebong.. Hei kampret..!!
Ingatlah...
Diatas kemarahan ibu pertiwi
matahari pancarkan resolusi
Angin... datang dengan taufannya
Hujan... datang dengan banjirnya
Ombak... datang dengan tsunaminya
Adalah teguran tuhan pada ummatnya.

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...