Selasa, 10 September 2019

BUNGA DALAM KACA

Bayang-bayang gagap menyelinap
Dari balik kaca tanpa cahaya
Ego menusia menguasai mata gelap
Menggores kening keriput titisan Rahwana.

Tegar berdiri
Dalam sunyi
Tegak bersama takdir
Sejalan arus mengalir
Tubuh yang remuk di rongga mulut
Hanya silatan lidah di rumah siput.

Ombak laut, datanglah..!
Gelombang samudera, hantamlah..!
Jiwa yang tenang, manusia tangguh
Sebagaimana kokohnya batu karang
Menghadang prasangka yang datang
Sebagaimana menyucikan cinta
Semedikan bunga dalam kaca.

Jiwa yang tenang
Terdiam menahan tekanan darah
Setiap kali memanas dan mendidih
Kidung-kidung asmara kalimatut thoyyibah
Selimuti tubuh yang elok bermata jernih
Sementaraaa...
Angin beriak merengek dalam ketiak
Serupa lirikan mata
Sayu terhimpit sajak.

Karya: Zaini Dawa
Sumenep Madura

Senin, 09 September 2019

Santuni anak yatim

Mereka adalah anak yatim
Yang sebenaranya mrk jg tdk mau disebut anak yatim
Mrk jg ingin punya ayah jg ibu
Mrk ingin bermanja2 dg orang tuanaya sebagaimana anak2 pd umumnya
Bisa jalan2 ke mall, supermarket, ke pantai, dan ke tempat wiasata lainnya.
Tp keadaan lah yg memaksa mrk utk lbh dahulu menjalani ujian seberat itu, menjali hidup tanpa ayah atau pun ibu.

Saudara2ku...
Saatnya kita mengulurkan tangan, memberikan sebagian harta kita untuk meringankan beban hidup mrk, meringankan kebutuhan mrk.
Kalau bkn kita?? Siapa lagi..!!!
Mrk tdk punya siapa2 kecuali kesedihan dan air mata yg menemaninya setiap waktu..

Bersyukurlah kita yg memiliki segalanya.. dan jgn lupa di antara kita banyak anak2 yatim yg membutuhkan kasih sayang kita.

Rosululluah SAW bersabda:
Aku dan orang yang menanggung anak yatim adalah seperti ini di surga.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Bukhārī).

Hadis tsb merupakan janji rosulullah trhadap org yg menyantuni anak yatim sedekat dua jari tlunjuk dn jari tengah dg rosulullah kelak di sorga.
Ttp sebaliknya..
mrk yg menghardik anak yatim
Merampas hak hak anak yatim
Menyakiti anak yatim
Olh Allah di golongkan kpd org2 yg mendustakan agamaNYA.

Minggu, 08 September 2019

NEGERIKU NEGERI TIKUS

Pak...
kau berdasi bukan karena hebat
Tp, karena kamu mampu membeli nurani rakyat.
Pak..
Kau berdasi bukan karena luar biasa
Tp. karena kau pengecut mencuri data
Lalu kau menagihnya kembali dengan kekuasaan
Korupsi merajalela tertangkap tangan
Jadilah negeri ini negeri tikus

Kau nahkodai negeri ini dg keserakahan
Uji coba aturan yang kau buat berbuah kekerasan
Kami mencoba menyuarakan kebenaran
Tapi kau anggap arogan

Kami pemilik bangsa indonesia
Darah kami terbakar
Melihat saudara2 kami yang memperjuangkan nilai-nilai pancasila
Menyelaraskan aturan agama dan negara
Harus melawa water canon..
Tembakan gas air mata...
Sadisnya amukan petugas
Jadilah negeri ini negeri tikus

Kapan suara kami akan terdengar
Bila suara kami kau anggap provokator
Lebih baik lepas dasimu
Daripada memcuci darah warga,
                   mahasiswa,
                   polisi,
                   tukang parkir
                   Buruh
Dan seluruh lapisan masyarakat yang peduli keadilan dan kebenaran.
Jadilah negeri ini negeri tikus

Negeri ini tidak butuh orang pintar
Pintar mengotak atik undang undang dasar
Negeri ini tidak butuh manusia kerdil
Yang takut undang-undang hukum pidana yang sudah ada

Jabatanmu tinggi tapi hargamu rendah
Pengetahuanmu luas tapi bodoh
Sebab otak kau taruh dalam perut
Jadilah negeri ini negeri tikus

Minggu, 01 September 2019

TAK SAMPAI

Di matanya
Ku rasakan lembabnya kegelisahan
Tersebab kecewa pada awan
Yang tak kunjung menjadi hujan
Dan setangkai melati
Yang gugur sebelum bersimpul jemari.

Akhirnya..
Dia merela bersila di tepi pantai
Menatap ombak berkejaran tiada henti
Menyuling senyum dari rongga kehidupan
Mematung sesak pada karang keabadian

Berkali-kali menjauh lalu mendekat
Berkali-kali menghilang kembali terjerat
Mencoret sebuah nama tak berpantai
Yang tak mungkin dia miliki

Cahaya bulan menyusut oleh risau malam
Tersangkut reranting berbayang hitam
Hancurnya riwayat mengusung selarik cerita
Menutur sebentang rindu yang pernah menjadi raja
Menggelora di istana antara luka dan kecewa

Rasa itu pernah meratui mimpi
Dan pada hari ini ia tangisi
Karena takdir yang tak mungkin diganti
Oleh seruncing duri
yang bersarang dalam hati

Jika ia tak bisa meneteskan terang
Lebih baik menjadi seonggok arang
Dari pada berdebu
Berpacu dengan bayu
Lalu cerita itu menjadi kobaran api
Melalap patung sejarah dan prasasti

Karya: Zaini Dawa

Kamis, 29 Agustus 2019

GEGGHER TAK E OCOL

Karya: Zaini Dawa

Gembang se egembar e dhalem sorat
Onggu sampek sateyah paggun e rabet
Engkok tak bisa ngosot apa pole a romet
Dinah makkeh sampek'ah bileh eareppah
Eareppah cengarah jek sampek elop
Tapeh pas kabedeen tak padeh ben pangarep
Hokom adet ben tengka se adeddiyagi lontorah panganggep

Duh angin...
Arapah mak tak e kabele sajujureh
Jek saonggunah gik padeh saleng ngambek
Sampek sateyah omur lah talebat
Sampek gembangah lah e petthek oreng

Ancor tang ateh
Remmuk tang dedeh
Mun engak dhek ka robenah
Mun engak dhek caretanah
Se ajelenin odhik pangistoh
Akaton tak dhek'iye'eh deddinah
Gembang se gegger paggun e pergem
Tak taoh jek bedeeh durinah
Tak taoh jek bedeeh gettanah

Kastah gun kareh kastanah
Gembang elop tadhek bunganah
Dusah gun kareh dusanah
Agebei pangarep se tadhek buktenah

Dhekremmah gun se mintaah saporah
Ben se mabeliah misemah

Terjemahan

GUGUR DALAM GENGGAMAN

Gambar bunga di dalam surat
Sampai sekarang sungguh masih terwat
Aku tak kuasa menghapus apalagi meremas
Biarlah sampai kapanpun tetap berharap
Berharap selalu tetap segar
Tapi, keadaan tidak sesuai dengan harapan
Hukum adat dan tradisi telah meluh lantakan sapa

Duhai sang bayu...
Mengapa tidak engkau ceritakan sejujurnya
Bahwa sesungguhnya masih saling berharap
Hingga usia menjadi senja
Hingga bunga itu dipetik orang

Hancur hatiku...
Remuk dadaku...
Bila ku kenang raut wajahnya
Bila ku kenang ceritanya
Menjalani hidup dengan cinta
Tak terbayang akan begini jadinya
Bunga yang jatuh masih dalam genggaman
Tanpa mempredulikan durinya
Tanpa mempedulikan getahnya

Penyesalan tinggallah penyesalan
Bunga itu layu tanpa bahagia
Dosa tinggallah dosa
Memberi harapan yang tiada wujudnya
Bagaimana caranya meminta maaf
Dan mengembalikan senyum manisnya.

Selasa, 20 Agustus 2019

MASAKAN IBU PERTIWI

Ibu pertiwiku tersenyum tua
Memasak di dapur untuk anak-anaknya
Yang hendak pulang kerja

Hemm..
Cucur keringat mengaroma di tubuhnya
Sedapkan makanan kesukaan mereka
Mereka pun datang petangtang-petenteng berdasi
Duduk di kursi bersama rekan koalisi dan oposisi
Lalu makan selahap-lahapnya seperti besok mau mati
Ibu pertiwiku hanya gigit jari
Melihat maknan habis sisanya dikemasi
Masuk ke dalam rangsel lalu pergi lagi

Ibu pertiwiku tersenyum tua
Memaksa diri untuk memasak lagi
Untuk anak-anak yang masih sekolah SD
Kali ini masakannya tidak sesedap tadi
Karena peluh keringatnya sudah habis untuk mewangi

Oh, Ibu pertiwiku...
Aku anak bungsumu ingin tertawa
Hahaaa...
Sepuas ragaku menganga hahahaaa...
Tapi, hanya aku yang tau lucunya
Mereka pasti menganggapku gila
Padahal kegilaanku tergelitik tingkahnya
Yang menghabiskan makanan hingga tulang-tulangnya tak tersisa

Ibu pertiwiku..
Anjing dan kucingmu kurus sekali
Mereka kurang vitamin dan gizi
Makanannya dijarah setiap hari
Oleh mereka, anak sulungmu yang suka makan argumentasi

Karya: Zaini Dawa

~22 agustus 2019~

Senin, 05 Agustus 2019

HARGA DARAH PEJUANG



Indonenesiaku...
Merdeka oleh darah pejuang
Darah yang tercecer dari ibu kota sampai hutan pedalaman
Darah yang tidak dihargai oleh siapapun
Bahkan mayat-mayat mereka tak sempat berkafan
Jadi santapan binatang-binatang kelaparan
Menyisakan semangat juang yang diwariskan
Kepada saudara-saudara seperjuangan
Sekali berteriak "merdeka..."
            Peluru menembus tengkorak
Sekali berteriak "majuuu.."
            meriam mendadak meledak
Komando kumandang takbir
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
            Membara diujung bambu runcing
Teriakan "hidup atau mati"
            Lelehkan ganasnya timah amunisi
Indonenesiaku...
Merdeka oleh darah pejuang
bukan ludah pecundang
Mereka yang kau sebut pahlawan
Tak sedetikpun menikmati kemerdekaan
Hanya bisa tersenyum di mata uang
Yang kau jarah atas nama tugas
Dan pengabdian hasil merampas
Indonenesiaku...
Dibangun oleh darah pejuang
bukan ludah pecundang
Aku saja muak dengan gayamu
Caramu mengayuh negeri ini
Ini negeri, pakk...
bukan puzzle..
Mestinya kita malu menjadi lintah
Di negeri yang dibangun dengan darah
Ratapan istri dan anak-anak di rumah
Indonenesiaku...
Merdeka oleh darah pejuang
bukan ludah pecundang
Mereka yang kau sebut pahlawan
Membaring kecewa dalam petilasan
Ku harap hari ini perang kembali terjadi
Melawan kompeni yang dulu mereka hadapi
Biar engkau tahu rasa pedih-sadisnya perang
Lalu...
Kita bangun kembali negeri ini
Dari awal kemerdekaan lagi..
(Karya: Zaini Dawa)
~06 Agustus 2019~

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...