Rabu, 08 Juli 2020

PENGKHIANATAN CINTA


Rasanya aku ingin mencungkil mataku
Dan menutupinya dengan bayangan hitam di pundakmu
Tapi, itu tidak mungkin
Karena aku masih ingin melihat akhir kisahmu
Kisah bersamanya yang kau pertaruhkan atas diriku
Sekalipun sangat menyakitkan.

Ketika burung-burung camar menari
Menanti kehangatan mentari pagi
Airmata adalah caraku berbicara tentang langit yang terlihat kosong
Kepada awan yang menyimpan pelangi
Kepada angin yang menggoyang ilalang
Kepada ranting yang menaggung putik dan benangsari
Aku mengutuk bayangan mesra di depan mataku sendiri...
Sebuah kenyataan yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi dalam hidup ini.

Engkau benar-benar keterlaluan
Tidak memperhatikan bagaimana hancurnya hatiku.
Dari semua kata sedih yang pernah aku katakan
Tak lebih menyiksa dari penhgkhianatan.
Meleleh... Membara... dan mendidih...
Di dalam tubuhku yang dulu pernah engkau kagumi.

Aku tidak marah...
Aku hanya kecewa...
Kecewa yang menutup semua pintu rayu.


Sumenep, 13 Juli 2020
Zaini Dawa

Jumat, 26 Juni 2020

Sendiri Kesakitan


Dengarlah wahai kekasihku...

Kesendirianmu seperti butiran air hujan dalam aliran darahku
Tak pernah reda mengorek rinduku untukmu
Kesakitanmu telah membuat
dadaku terbelah
Tiada henti-hentinya meneteskan air mata darah.

Keadaanmu mejadi dilema perjalanan matahari
mewakili bekunya embun pagi.

Bumi dan langit tak akan pernah satu nafas
Walau gemerisik angin mengundang gerimis.

Sepertinya tuhan sedang mengajarimu untuk tersenyum
Sekalipun dalam keadaan sekarat
Sumenep. 26 juni 2020
Zaini Dawa

Rabu, 24 Juni 2020

MASIH


Untukmu yang pernah aku singgahi
Dan masih tetap aku jumpai
sampai saat ini.

Semoga suaraku tidak mengganggu tidurmu
Suara yg berkelana diantara tidur dan jagaku
Memutar kembali sketsa derama percintaan
Yang sempat dimainkan badai dan taupan.

Bayangmu menyelubungi malam-malamku
Dan hari-hari yang tak pernah lepas hingga aku menemukanmu.
Terluka...
Pada saat dia mabuk
Tertekan...
Pada saat dia terhimpit.

Dalam kondisi seperti ini
Aku memang tak terlihat apa-apa
Aku sadari lukamu itu sebuah patahan
Tak mungkin disambung dengan benang murahan
Yang mudah ditemukan di pinggir jalan.


Sumenep. 26, Juni 2020
ZainiDawa

Selasa, 23 Juni 2020

BUNGA LAYU DALAM KACA


Aku...
Setangkai bunga
yang kau simpan dalam kaca
Tangkai itu...
Telah patah seribu
Dan bunga layu tiada bermadu.

Engkau kekasihku yang ditakdirkan bersama orang lain
Demi cinta..
Telah aku tahan beribu suka dalam batin
Telah aku korbankan waktuku untuk menganyam sebilah mimpi
Hingga ku abaikan usia matahari..

Selama ini
Aku terbuai desir lembut angin
Yang menepikan buih-buih di lautan
Melambaikan rumbai-rumbai janur kuning
Menyalami jiwa yang nyaris mati tergantung.

Mata terpejam
Terbayang balutan luka yang terlihat akan indah pada masanya
Seakan-akan akulah satu-satunya cinta yang akan engkau genggam
Nyatanya aku terbuang jatuh tertimpa tangga
Aku seperti kelana angin tak bermusim
Sepi...
Sunyi..
Sendiri..

Aku lah bunga dalam kaca
Korban kebutaan cinta


Madura. 24'juni'20
Zaini Dawa

Senin, 15 Juni 2020

KUDETA CINTA



Semilir angin mengusap rasa yang pernah merajai hati
Tersirat bayangan sendu di ruang hasrat imaji
Kidung asmara mendesah nafas pilu di setiap eja
Merasakan pahitnya titian sapa diretas kudeta cinta.

Kemanakah kiranya hatimu bertandang
Menjemput seruas hasrat dalam satu pandang
Membawa serpihan-serpihan fatamorgana
Memadukan waktu dapat ku peluk erat mesra.

Aku tidak mampu melawan kehendak tuhan
Yang menunutunku melalui isyarat kedip rembulan

Kepada hujan yang selalu bercerita
Melalui irama rintik tulus beningnya
Seperti bait-bait rinduku yang kerap berharap
Suatu saat ia akan menetes membasahi hatimu.

Aku tidak perlu menghitung detak jantugmu
Ataupun mengukur kedalaman air matamu
Semuanya bergerak tiba-tiba dan menjadi kaku
Semuanya berjalan seperti yang dinazarkan kupu-kupu.

Engkau adalah elok senja yang dikalahkan angin
Bertaut selaksa riuh gelap di bibir cakrawala langit jingga.



Sumenep, 01 sept 2020
Zaini Dawa

Rabu, 20 Mei 2020

Riuh Dalam Sunyi

Saat ini....
Tuhanku menitip salam kepada angin
Dengan bahasa yang indah dan santun..
Bersemilir meniupkan sesak meraba bumi
Dan menciumi dedaunan yang mendurhakai matahari.

Kini...
Mampuslah kau manusia dilumat sendiri
Hai para pendusta
Hai para penista
Yang telah mengotori masa
Serupa kecowa kecil dalam sepatu
Mingkem terbungkam aneh-aneh dan lucu.
Tersayat ketakutan
Terjebak keterpurukan

tangan-tangan raksasa susut mengerut
Digertak serdadu bisu hingga berlutut
Tutur sapanya yang sepi bergemuruh
Mengembalikan jiwa yang jauh nan rapuh
Dari peluk sunyi yang tertulis pada pelepah kurma
Dan terdiam kembali ke dinding rahimnya.
Seraya memahami setetes air laut
Yang menempel ujung jarum.


Sumenep, 01'06'20
Zaini Dawa

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...