Jumat, 25 Juni 2021

LELAKI PECUNDANG

Aku seperti pengecut
Yang takut bersaing melawan liarnya angka-angka di luar sana
Katakan aku pecundang
Sayang...!!

Ketika mimpi-mimpi terlanjur tinggi
Sirine hidup meraung-raung dalam tubuhku
Dari kekaguman-kekaguman yang menyusupi puisi-puisiku

Aku telah merasakan dua kali melayang di pangkuanmu
Di pelukkmu

Lelahku seperti udara terhirup menjadi nafasmu
Dan aku nyaris gila dalam ruang gelap gelapnya percintaan

Ohh.. akulah pengecut itu


Sumenep, 28 April 2021
(Zaini Dawa)

Selasa, 11 Mei 2021

PUISI HARI RAYA AIDUL FITRI

HARI KEMENANGAN.

Telah kutaklukkan kemunafikan tanpa rasa takut.
Telah kutaklukkan kesombongan dengan rasa lapar dan haus.
Bukan dengan argumen.
Bukan dengan kekuasaan.

Kini,
Kita telah terpisah dengan bulan suci romadlan

Berteriaklahhh...
Sehebat rasa sakitnya daging terkuliti
Karena terpisah dengan kekasih

Menjeritlah...
Sedahsyat mayat-mayat dalam kubur
Merinding karena teriakan kemenangan
Pecah di bibir anak cucu mereka.
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Wa lillahilhamdu...

Sumenep, 11 Mei 2021

Zaini Dawa

Senin, 26 April 2021

TAKJIL

Seperti rindu yang terpenjara
Perjumpaan yang dimimpikan
Menggeliat hebat mengguncang dada

Cintaku karena kasihmu
Hingga ku abaikan corong-corong yang tegak menghadap ke barat dan ke timur.
Dan lagu-lagu merdu yang berteriak-teriak memanggil namamu
Sebab aku tahu engkau lebih dekat dari urat nadiku.

Sepantasnya aku malu
Dan aku lebih memilih malu
Dengan rasa rakus yang menguasi benak beringas seperti penganten baru
Untuk kau hajar kerak-kerak hitam di tubuhku.

Seperti terbuai kenikmatan
Dan tatapanmu yang meneteskan madu
Telah mengacak-acak otak dan pikiran
Sebab tajalliku menggereget dalam takjilku.

Sumenep, 27 April 2021

Zaini Dawa

AIR MATA TERAKHIR

Mendung apa gerangan di balik hujan air matamu
Menderu seolah-olah esok tidak ada lagi matahari.

Engkau datang mengadukan nasib air mata
Menghakimi kekalahan-kekalahan yang menindas isi kepala
Menanggung semua rasa yang terselip diantara dua luka
Dan kau ingin menukarnya dengan retaknya do'a do'a.

Diantara kita tidak ada dusta
Tidak ada kecewa
Tiba-tiba ruang tersekat dan waktu terhenti
Pada saat debur-debur darah segar mengguncang mimpi

Kalau saja mereka mengerti pemberontakan
Cukup dengan setetes air mata
Dunia ini akan tenggelam ke dalam nestapa
Nyatanya...
Air matamu tetap saja menggenangi pangkuan.

Baiknya kita berteduh di bawah takdir
Bukan menyumpahi pertemuan-pertemuan yang kini terkapar
Dan menjadi risalah air mata terakhir
Karena kekalahanku adalah seni membuat titik bergetar.

Sumenep, 26 April 2021

Zaini Dawa

Jumat, 19 Maret 2021

CEMAS

Aku tulis namaku disini
Di atas pasir menanti datangnya matahari
Meyakinkan gelombang perjalanan batin
Perihal ngiang tawa dan air mata seperti angin

Rasa ini terdiam dalam meditasi bunga
Bertaut pesona mawar, pun juga duri-durinya

Daun-daun tertiup angin
Bergesekan menyampaikan riuh
Mengisyaratkan nada rintih

Tak ada yang berpijar dari gelapnya malam
Tak ada yang terpancar dari kedapnya sekat terpendam

Dalam meditasi itu...
Daun-daun runtuh dan terlepas
Terhempas angin berkuntum cemas


Sumenep, 190321
Zaini Dawa

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...