Minggu, 14 Juli 2024

ENGKAU ADA DI SINI


Bila kutatap langit
Lalu aku tidak melihatmu di sana
Kulempar pandangan pada dinding kebisuan
Layar mimpi terbuka
Menampilkan senyum yang membuatku berdoa
Serta jerit air mata yang meronta
Kupagari tatapanku dengan jari-jemari
Malah rinduku semakin tak terkendali

Bila kutatap langit
Lalu aku tidak melihatmu di sana
Aku tanya bintang-bintang
Mereka hanya bergeming
Berkedip sayu lalu menghilang
Aku tanya awan
Dia hanya menggeleng
Diam membungkam lalu terbang
Kemudian aku tanya matahari
Dia tersenyum sambil menunjuk kitab suci
Tentang ayat perjalanan matahari dan bulan
Tentang kelopak mayang dan penyerbukan
Diksi paling merdu guratan Ar Rahman

Pantas saja aku tidak melihatmu di sana
Karena sejatinya engkau ada di sini

Zaini Dawa
Sumenep, 14 Juli 2024

Jumat, 14 Juni 2024

OH HATI

OH HATI
Zaini Dawa

Tiada tempat yang layak untukmu, oh hati
Bila diletakkan di tempatnya
Jantung berdebar tak wajar
Sakitnya seperti ditusuk-tusuk duri mawar

Bila digeser sedikit ke kanan
Jauh semerbak dari kelopak
Merinding
Menyisakan putik terbungkus kafan

Bila digeser sedikit ke kiri
Jauh ences dari tawa
Meleleh
Abaikan rindu yang menghangatkan dinginnya malam

Memang
Tidak ada dilema yang mudah dipilih
Tak seperti mengantongi bintang-bintang dalam berpetualang
Petikan demi petikannya yang membuatmu tersenyum
Tak semudah itu untuk kukubur dalam-dalam

Sumenep
14 Juni 2024

Sabtu, 25 Mei 2024

BERPUTIK AIR MATA

Setiap kali kutatap senyum terbelah
Seketika curahan kata-kata terselip manja
Indah bermutiara di selal-sela jemari
Bisikan lirih menggali lubang kehormatan
Mengubur doa yang kalah bertarung di langit
Dialah melati yang kusebut mawar
Putik bersemi berbunga di ladang subur

Di balik takut yang tak pernah hilang
Dan gelisah yang tak pernah usang
Ingin kubersihkan wajah bulan dari kerak awan hitam
Abadikan pesona yang tersembunyi
Sekalipun gerhana di matanya menyimpan luka

Laut tempat menitip senyum tak mau diam
Memilih bergelombang menghantam sunyi
Menepis "jika" di pundak kelelakianku
Dialah bulan separuh yang kusebut purnama
Terjebak bahagia bersyarat air mata

Cintaku membungkus semua keindahannya
Dengan sempurna
Rapi dan berlapis
Sekalipun tidak akan selamat oleh awan putihnya

(Zaini Dawa)
Sumenep, 25 Mei 2024

Minggu, 24 Maret 2024

YAKIN TAK PERCAYA

Tetes air sisa hujan tertusuk cahaya matahari
Merona pantulkan rindu yang tak wajar
Fajar dan senja menjadi sebentuk senyum di sudut-sudut awan kelabu

Aku tak yakin
Sederas-derasnya hujan mampu hanyutkan melati di pipi
Dan tenggelamkan boneka berbee di gorong-gorong mimpi

Aku tak yakin
Selebat lebatnya hujan mampu menghapus jejak
Jantungku beserta isi dan penghuninya tiada berdebu

Kalaupun harus yakin
Aku tetap tidak percaya
Seekor lebah tak mungkin menggugurkan bunga yang dihinggapinya
Dan tak punya tinta hitam untuk mengubah warnanya

Terlalu bergemuruh untuk kusimpan dalam-dalam
Terlalu dalam aku larut untuk kusia-siakan
Sementara, serat sabdaku masih mengarungi lautan biru di matamu

Zaini Dawa
Sumenep, 04 Maret 2024

Senin, 31 Oktober 2022

ANTOLOGI HABIBIE AINUN _. Ekawati

CINTA SEJATI HABIBI

Ekawati

 

 

Di Kota Parepare kita membangun biduk ini bersama

Berbagi bahagia juga air mata duka

Meski takdir akhirnya mematahkan hatiku

Namun senyum itu masih terus merembulan

Hiasi pelupuk mata selamanya

 

Aku pernah berkata padamu dulu

;kematian tidak akan menghentikan cintaku

 

Sakitnya rindu kuteriakkan

Patahnya hati kutumpahkan

Agar sesak ini habis meruah

Sisakan cinta sejati di sudut hati yang kau tinggalkan

 

Ainun, belahan jiwaku

Terima kasih telah kau izinkan memelukmu

Merengkuh erat cinta hingga akhir hayatmu

Tunggulah aku di jannah duhai calon bidadari syurgaku

 

Padang Lawas, 21 Oktober 2022


AINUN NAN MEMESONA

Ekawati

 

Ada sekuntum senyum merekah di Kota Parepare

Menggetarkan sukma penuh rasa

Indah, manis, memesona

Gula jawa memudar

Menjelma gula pasir bersinar hanya milikku; Habibie

Di pipimu mawar cinta kian merekah

Tersipu malu-malu

 

Rasa tumbuh membelukar penuhi dada

Antusiasme, intensitas menatapmu

Melahirkan kekaguman

Kita ucap ikrar janji suci

Bergandengan erat menapaki mahligai

 

Angan dan impian menyatu realita

Membangun bangsa bersama

Menebar cinta ke sesama

Berjuang seiring sejalan

Saling kasih harmoni seirama

Mendekap gemilang masa depan bangsa

 

Padang Lawas, 21 Oktober 2022


TUNGGU AKU AINUN

Ekawati

 

Ainun, sayangku

Terbayang selalu seulas senyummu

Menyambutku di gerbang dimensi lain

Sambil membacakan puisi indah

Goresan kalbu nan merindu

 

Dulu, pejam mata membuat gelisah

Ketakutan menelusup ke palung jantung

Kemana lagi manja Habibiemu ini tertuju

Jika pangkuanmu tak kutemukan

Kehilangan selalu menjadi mimpi buruk sepanjang malam

 

Ainunku

Kini kupupus rasa takut memejam mata

Karena kutahu, kau menungguku di surga

 

Padang Lawas, 22 Oktober 2022


Ekawati, dilahirkan 36 tahun silam tepatnya 22 Agustus di kota bertuah Pekanbaru. Tinggal dan menetap di Padang Lawas. Kegiatan sehari-hari sebagai Tenaga Pendidik di SMA Negeri 1 Ulu Barumun. Aktif di beberapa grup sastra. Telah menerbitkan sebuah novel yang berjudul Cinta Pada Pecahan Cermin (2021), selain itu saat ini telah bergabung dalam 20 antologi bersama, dan beberapa antologi lain yang masih dalam proses penerbitan.

 

Alamat:

Desa Paringgonan

Kecamatan Ulu Barumun

Kabupaten Padang Lawas

Provinsi Sumatera Utara

WA: 0812-7559-1163

ANTOLOGI HABIBIE AINUN _ Zaini Dawa

HADIAH TERINDAH

Zaini Dawa

 

Kau adalah aku

Dua raga satu jiwa

Dua paru satu napas

Beriringan tapaki masa demi masa

 

Denyut jantung menyapa

Sejak lekuk fajar menyemburat

Hingga jingga menenggelamkannya

Dan pipi merona mawar itu tetap berseri hingga lelap menjemput

 

Mencintai dan memilikimu adalah hadiah paling indah dari Tuhan

Cinta ini akan tetap terjaga

Meski akhirnya harus mengalah pada takdir

 

Di peristirahatan terakhirmu

Kutemukan seraut senyum yang sama

Masih menghangati dada

 

Tidurlah sayang, tidurlah Ainunku

Akan kutaburi pusaramu dengan indah cinta juga lafaz doa

 

Sumenep, 20 Oktober 2022


DIALAH HABIBIE

Zaini Dawa

 

Ada binar bening tulus

Terpancar dari sepasang mata indah

Di dalamnya kulihat semangat juang

Juga cita-cita mulia

 

Meski tertatih tetap ayunkan langkah

Merajut asa tuk memajukan negeri

Abaikan gigil beku tanpa keluh

Hadapi aral rintang yang menghadang dengan semangat membara

 

Dialah Habibie kebanggaan Kota Parepare

Lelaki tangguh yang memilihku untuk mengarungi bahtera bersama

Menghiasi mimpi dengan janji setia

Berbagi suka dan duka

Mencintai tanpa batas

 

Kau adalah anugerah terindah

Hadiah Tuhan

Abadi sepanjang hidup

 

Sumenep, 21 Oktober 2022


MEMINTAL RINDU

;Untuk Ainun

Zaini Dawa

 

Lintang dan rembulan akan menjadi butiran imaji jika bersanding dengan senyummu

Atau hanya menjelma rinai tipis yang tak mampu membasahi raga

 

Aku hanya mampu memintal rindu

Kala hujan luruh bersama air mata

Mengutip sajak-sajak cinta berlafas doa

Mencoba temukan sebaris senyum yang membayang di pusara

Berlarian menggoda labirin ingatan

;tentang indah cinta

 

Ainun sayang

Cintamu adalah motivasiku untuk bangkit

Berdamai dengan takdir

 

Tunggulah sebentar lagi duhai bidadari

Sang gula jawa penyemangat jiwa

Kita akan kembali bersama nanti di kampung abadi

 

Sumenep, 22 Oktober 2022
 

DAWA.jpg

Zaini Dawa adalah nama pena dari kreator sekaligus narator dari Gubuk Sastra Indonesia (Gus I). Meriam Madura ini sudah mencintai literasi sejak di bangku sekolah. Selain aktif di beberapa grup sastra, ia juga telah mengolah beberapa puisinya menjadi video visualisasi puisi yang dipajang dichanel YouTube miliknya. Kegemaran dalam mengolah diksi juga diabadikan dalam beberapa antologi bersama yaitu Antologi Goresan Suara Jiwa Sastra Nusa Widhita (2021), Antologi 77 Penyair Membaca Pahlawan (2022) , Antologi Upacara Tanah Puisi (2022), Antologi kontemplasi  dan beberapa antologi lain yang saat ini sedang dalam proses.

Media sosial, Fb  : Zaini Dawa, WA : +62832-0170-0465, YouTube : Gus I

https://www.youtube.com/channel/UC4tGFSsH-tUEK44Z8g6NbeQ

BLOGGER: https://zaini-dawa.blogspot.com/

 

Alamat :

Toko alif lam mim

Payudan karang sokon Guluk guluk

Kabupaten Sumenep

RT 03

RW 02

Kode pos 69463

ANTOLOGO PUISI IBU _ EKAWATI

 

Nama : Ekawati

Judul   : AKSARA PEMBERAI GADUH

Isi        :

 

Aku masih berkelana di geriap mimpi

Memangku angan di pangkal langit

Sambil lantunkan doa puji penenang hati

 

Semenanjung rindu dikelilingi pusara waktu

Menangkar nafsu kesedihan agar lelah berontak

Namun ketetapan jarak tetap menghampar buih

Mengapungkan angan-angan pada kehilangan

 

Hanya aksara yang kini memuisikan gaduh

Memeramnya di tempat paling sepi

Memberai satu-satu rindu di hati

Sambil melihat ke-dua matamu mengembun dalam hening

 

Padang Lawas, 14 Oktober 2022


 

Nama : Ekawati

Judul   : KUTEMUKAN RAUTMU IBU

Isi        :

 

Sebaris cahaya jatuh di labirin ingatan

Berkelana mengutip sajak-sajak cinta tertinggal

Berharap air mata lelah mengalir

 

Antara dinding kalbu rautmu kutemukan

Menatap lekat

Sambil melengkungkan senyum

Memanggilku masuk dalam dekapan penuh cinta

 

Bu, elus sayang ubun-ubunku

Kecup nentra sampai ke penghujung malam

 

Bu, telah kuabadikan wajahmu pada rembulan

Agar kau bebas menjamah rindu

Saling dekap sampai azan subuh berkumandang

 

Padang lawas, 25 Oktober 2022


Nama : Ekawati

Judul   : MELARUNG KENANGAN

Isi        :

 

Ribuan rinai berjatuhan

Luruh bersama air mata

Teduh yang ditawarkan payung tak lagi berarti

Nyamannya peraduan tak lagi menghangat

 

Tenggelam aku dalam tangkupan sepi

Melarungnya sambil mendekap kenangan

Berharap temukan rautmu dalam lipatan mimpi

 

Menapaki hari tanpamu

Aku ibarat puisi yang tidak pernah selesai

Kehilangan arti

Berkali coba bangkit

Berkali juga harapan berderai

 

Ibu, maaf jika aku masih kehilangan

Masih larut dalam kubangan penyesalan

Menyesatkan angan tetap bersamamu

Biarkan dekapan hujan menenggelamkan segalanya

 

Siasati hati tuk menganggapmu masih ada

Sambil mengolah rasa

Menikmati kenanganmu

Selamaanya

 

Padang lawas, 20 Oktober 2022

 


mom tissi.jpg

Ekawati, dilahirkan 36 tahun silam tepatnya 22 Agustus di kota bertuah Pekanbaru. Tinggal dan menetap di Padang Lawas. Kegiatan sehari-hari sebagai Tenaga Pendidik di SMA Negeri 1 Ulu Barumun. Aktif di beberapa grup sastra. Telah menerbitkan sebuah novel yang berjudul Cinta Pada Pecahan Cermin (2021), selain itu saat ini telah bergabung dalam kurang lebih 20 antologi bersama, dan beberapa antologi lain yang masih dalam proses penerbitan.

 

 

 

Foto EKAWATI DAN IBU SUPARTIN

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...