Jumat, 19 Maret 2021

CEMAS

Aku tulis namaku disini
Di atas pasir menanti datangnya matahari
Meyakinkan gelombang perjalanan batin
Perihal ngiang tawa dan air mata seperti angin

Rasa ini terdiam dalam meditasi bunga
Bertaut pesona mawar, pun juga duri-durinya

Daun-daun tertiup angin
Bergesekan menyampaikan riuh
Mengisyaratkan nada rintih

Tak ada yang berpijar dari gelapnya malam
Tak ada yang terpancar dari kedapnya sekat terpendam

Dalam meditasi itu...
Daun-daun runtuh dan terlepas
Terhempas angin berkuntum cemas


Sumenep, 190321
Zaini Dawa

Sabtu, 27 Februari 2021

ZAMAN BATU

Engkau yang terlahir dari batu
Ditempa manusia-manusia batu
Tanduk berpamor
lidah becabang
Menyepuh paku
pada batu-batu kampung.

Engkau telah menjadi batu.
Kembali melahirkan batu 
Sejak zaman dahulu
Dan hari ini masih zaman batu.

Ketika manusia pilihan menjadi batu
Diagungkan manusia-manusia batu
Tidak ada lagi benih bunga-bunga disemaikan
Tidak ada lagi kitab-kitab dimunculkan
Keadilan disesuaikan dengan selera
Aturan dimainkan sesuai rencana.

Ketika manusia pilihan menjadi batu.
Diagungkan manusia-manusia batu
Hilang akal sehat
Hilang budaya
Hilang norma
Kedzoliman berbaris rapi dihadapan batu-batu
Semuanya membisu
Semuanya membatu
Seolah-olah itu biasa
Sebab sama-sama
memiliki cerita
yang sama.

Hari ini...
Bangsa menghadapi zaman batu
Zaman yang penuh keruwetan
Zaman yang penuh kerepotan
Bangsa-mana yang tidak ketakutan
Menyaksikan kekuatan mengundang keributan
Dan kekuasaan memancing perselisihan

Oo.. zaman batu
Kau akan hancur di tangan orang gila
Orang yang tidak takut dihantam batu
Tidak pula manusia-manusia batu
Dia datang bersama pengembala ranting
Juga batang-batang pohon kering
Punya nyali membakar puji
Bongkar pengkhianat bakti
Tanpa senjata
Tanpa azimat
Tanpa prajurit
Lidahnya berapi
Ucapannya terbukti
Membangkang berani mati.

(Zaini Dawa)

Sabtu, 09 Januari 2021

ANUGERAH TERISTIMEWA

(Karya: Sekar langit)

Dalam gerimis yang sepi
Aku laksana seloka saat aksara rindu tawarkan cinta sebagai hantaran sendu di setiap baitnya. 

Rasa terbungkam
Dan mata angin menjadi segala arah pencaharian resahku.
Ketika kalbu menanyakan jalinan kisah perihal kita

Sedang ritmik hujan telah teteskan harap dimana kau menjadi butiran imaji dalam setiap rindu yang basah. 

Aku mencintai mu dengan pijar cakrawala yang kugantung di langit jiwa.
Dan mengikuti waktu tanpa ragu menunggumu kembali

Berharap 
Engkau menggenapkan puzzle cinta yang telah kita susun bersama

Rindu ini masih sumbang tanpamu ....
sebab kepergianmu menorehkan sunyi di malamku

Kepadamu 
Dengarlah suara hatiku.

Bahwa hanya engkaulah anugerah teristimewa, dalam hidupku.

ANUGERAH TERINDAH

(Karya: Zaini Dawa)

Hari-hari berlalu dengan kebisuan
Malam-malam pun terjebak kegelisahan
Gemericik sabda jiwa
Merongrong do'a
Menyusun serat-serat cinta
Pada dedaunan yang dimainkan rintik rindu
Semakin tulus kubenamkan rasa.

Hasrat menari di atas mahkota bunga
Rasanya tenggelam ke dalam serbuk sari bermadu
Burung-burung berkicau merdu nan syahdu
Iringi kegilaanku yang hanyut bah tirta nirwana.

Alunan kasih mengalir menjadi dzikir
Mengurai penat penuhi ruang langit
Ditemani melodi cinta temui bintang-bintang
Karena esok akan kembali dengan cahaya yang ditempa pada rembulan.

Percayalahh...
Telah kulabuhkan ikrar pada sekuntum bunga
Untuk sekeping puzzle yang diambil dari patahan rusuk
Sebab jantungku tak mungkin berdetak
Hanya dengan satu rasa
Begitu pula dingding hatiku
Takkan pernah indah tanpa lukisan cintamu.

Sejuk mata rembulan
Teduh di pelupuk mata
Engkau tak perlu gelisah
Sebab engkau adalah anugerah terindah
Adaku karena cintamu
Adamu adalah rinduku.

KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa  Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...