Sabtu, 22 Agustus 2026
KUNTILANAK MERAH
Selasa, 21 Juli 2026
SANDERA CINTA
Rabu, 25 Maret 2026
SILSILAH ZAINI dari jalur ibu
Minggu, 15 Maret 2026
RINDU PALING HUYUK
Rabu, 04 Maret 2026
PANGGILAN CINTA
Sabtu, 21 Februari 2026
SAJAK BERLUMURAN MADU
Rabu, 04 Februari 2026
MIMPIKU MASIH BERDIRI DI DEPAN PINTU
SEBUTIR DEBU
Senin, 09 Juni 2025
AKU BISA SAJA MEMETIKMU
Senin, 30 September 2024
RAPUH
Kamis, 19 September 2024
HOMONYM
Selasa, 06 Agustus 2024
BUNGA YANG TERLUKA
Minggu, 14 Juli 2024
ENGKAU ADA DI SINI
Jumat, 14 Juni 2024
OH HATI
Sabtu, 25 Mei 2024
BERPUTIK AIR MATA
Minggu, 24 Maret 2024
YAKIN TAK PERCAYA
Senin, 31 Oktober 2022
ANTOLOGI HABIBIE AINUN _. Ekawati
CINTA SEJATI HABIBI
Ekawati
Di Kota Parepare kita membangun biduk ini bersama
Berbagi bahagia juga air mata duka
Meski takdir akhirnya mematahkan hatiku
Namun senyum itu masih terus merembulan
Hiasi pelupuk mata selamanya
Aku pernah berkata padamu dulu
;kematian tidak akan menghentikan cintaku
Sakitnya rindu kuteriakkan
Patahnya hati kutumpahkan
Agar sesak ini habis meruah
Sisakan cinta sejati di sudut hati yang kau tinggalkan
Ainun, belahan jiwaku
Terima kasih telah kau izinkan memelukmu
Merengkuh erat cinta hingga akhir hayatmu
Tunggulah aku di jannah duhai calon bidadari syurgaku
Padang Lawas, 21 Oktober 2022
AINUN NAN MEMESONA
Ekawati
Ada sekuntum senyum merekah di Kota Parepare
Menggetarkan sukma penuh rasa
Indah, manis, memesona
Gula jawa memudar
Menjelma gula pasir bersinar hanya milikku; Habibie
Di pipimu mawar cinta kian merekah
Tersipu malu-malu
Rasa tumbuh membelukar penuhi dada
Antusiasme, intensitas menatapmu
Melahirkan kekaguman
Kita ucap ikrar janji suci
Bergandengan erat menapaki mahligai
Angan dan impian menyatu realita
Membangun bangsa bersama
Menebar cinta ke sesama
Berjuang seiring sejalan
Saling kasih harmoni seirama
Mendekap gemilang masa depan bangsa
Padang Lawas, 21 Oktober 2022
TUNGGU AKU AINUN
Ekawati
Ainun, sayangku
Terbayang selalu seulas senyummu
Menyambutku di gerbang dimensi lain
Sambil membacakan puisi indah
Goresan kalbu nan merindu
Dulu, pejam mata membuat gelisah
Ketakutan menelusup ke palung jantung
Kemana lagi manja Habibiemu ini tertuju
Jika pangkuanmu tak kutemukan
Kehilangan selalu menjadi mimpi buruk sepanjang malam
Ainunku
Kini kupupus rasa takut memejam mata
Karena kutahu, kau menungguku di surga
Padang Lawas, 22 Oktober 2022
Ekawati, dilahirkan 36 tahun silam
tepatnya 22 Agustus di kota bertuah Pekanbaru. Tinggal dan menetap di Padang
Lawas. Kegiatan sehari-hari sebagai Tenaga Pendidik di SMA Negeri 1 Ulu
Barumun. Aktif di beberapa grup sastra. Telah menerbitkan sebuah novel yang
berjudul Cinta Pada Pecahan Cermin (2021), selain itu saat ini telah
bergabung dalam 20 antologi bersama, dan beberapa antologi lain yang masih
dalam proses penerbitan.
Alamat:
Desa Paringgonan
Kecamatan Ulu Barumun
Kabupaten Padang Lawas
Provinsi Sumatera Utara
WA: 0812-7559-1163
ANTOLOGI HABIBIE AINUN _ Zaini Dawa
HADIAH TERINDAH
Zaini Dawa
Kau adalah aku
Dua raga satu jiwa
Dua paru satu napas
Beriringan tapaki masa demi masa
Denyut jantung menyapa
Sejak lekuk fajar menyemburat
Hingga jingga menenggelamkannya
Dan pipi merona mawar itu tetap berseri hingga lelap menjemput
Mencintai dan memilikimu adalah hadiah paling indah dari Tuhan
Cinta ini akan tetap terjaga
Meski akhirnya harus mengalah pada takdir
Di peristirahatan terakhirmu
Kutemukan seraut senyum yang sama
Masih menghangati dada
Tidurlah sayang, tidurlah Ainunku
Akan kutaburi pusaramu dengan indah cinta juga lafaz doa
Sumenep, 20 Oktober 2022
DIALAH HABIBIE
Zaini Dawa
Ada binar bening tulus
Terpancar dari sepasang mata indah
Di dalamnya kulihat semangat juang
Juga cita-cita mulia
Meski tertatih tetap ayunkan langkah
Merajut asa tuk memajukan negeri
Abaikan gigil beku tanpa keluh
Hadapi aral rintang yang menghadang dengan semangat membara
Dialah Habibie kebanggaan Kota Parepare
Lelaki tangguh yang memilihku untuk mengarungi bahtera bersama
Menghiasi mimpi dengan janji setia
Berbagi suka dan duka
Mencintai tanpa batas
Kau adalah anugerah terindah
Hadiah Tuhan
Abadi sepanjang hidup
Sumenep, 21 Oktober 2022
MEMINTAL RINDU
;Untuk Ainun
Zaini Dawa
Lintang dan rembulan akan menjadi butiran imaji jika bersanding
dengan senyummu
Atau hanya menjelma rinai tipis yang tak mampu membasahi raga
Aku hanya mampu memintal rindu
Kala hujan luruh bersama air mata
Mengutip sajak-sajak cinta berlafas doa
Mencoba temukan sebaris senyum yang membayang di pusara
Berlarian menggoda labirin ingatan
;tentang indah cinta
Ainun sayang
Cintamu adalah motivasiku untuk bangkit
Berdamai dengan takdir
Tunggulah sebentar lagi duhai bidadari
Sang gula jawa penyemangat jiwa
Kita akan kembali bersama nanti di kampung abadi
Sumenep, 22 Oktober 2022

Zaini
Dawa adalah nama pena dari kreator sekaligus narator dari Gubuk Sastra
Indonesia (Gus I). Meriam Madura ini sudah mencintai literasi sejak di bangku
sekolah. Selain aktif di beberapa grup sastra, ia juga telah mengolah beberapa
puisinya menjadi video visualisasi puisi yang dipajang dichanel YouTube
miliknya. Kegemaran dalam mengolah diksi juga diabadikan dalam beberapa
antologi bersama yaitu Antologi Goresan Suara Jiwa Sastra Nusa Widhita (2021),
Antologi 77 Penyair Membaca Pahlawan (2022) , Antologi Upacara Tanah Puisi
(2022), Antologi kontemplasi dan
beberapa antologi lain yang saat ini sedang dalam proses.
Media
sosial, Fb : Zaini Dawa, WA :
+62832-0170-0465, YouTube : Gus I
https://www.youtube.com/channel/UC4tGFSsH-tUEK44Z8g6NbeQ
BLOGGER: https://zaini-dawa.blogspot.com/
Alamat :
Toko alif lam mim
Payudan karang sokon Guluk guluk
Kabupaten Sumenep
RT 03
RW 02
Kode pos 69463
ANTOLOGO PUISI IBU _ EKAWATI
Nama : Ekawati
Judul : AKSARA PEMBERAI
GADUH
Isi :
Aku masih berkelana di geriap mimpi
Memangku angan di pangkal langit
Sambil lantunkan doa puji penenang hati
Semenanjung rindu dikelilingi pusara waktu
Menangkar nafsu kesedihan agar lelah berontak
Namun ketetapan jarak tetap menghampar buih
Mengapungkan angan-angan pada kehilangan
Hanya aksara yang kini memuisikan gaduh
Memeramnya di tempat paling sepi
Memberai satu-satu rindu di hati
Sambil melihat ke-dua matamu mengembun dalam hening
Padang Lawas, 14 Oktober 2022
Nama : Ekawati
Judul : KUTEMUKAN RAUTMU IBU
Isi :
Sebaris cahaya jatuh di labirin ingatan
Berkelana mengutip sajak-sajak cinta tertinggal
Berharap air mata lelah mengalir
Antara dinding kalbu rautmu kutemukan
Menatap lekat
Sambil melengkungkan senyum
Memanggilku masuk dalam dekapan penuh cinta
Bu, elus sayang ubun-ubunku
Kecup nentra sampai ke penghujung malam
Bu, telah kuabadikan wajahmu pada rembulan
Agar kau bebas menjamah rindu
Saling dekap sampai azan subuh berkumandang
Padang lawas, 25 Oktober 2022
Nama : Ekawati
Judul : MELARUNG KENANGAN
Isi :
Ribuan rinai berjatuhan
Luruh bersama air mata
Teduh yang ditawarkan payung tak lagi berarti
Nyamannya peraduan tak lagi menghangat
Tenggelam aku dalam tangkupan sepi
Melarungnya sambil mendekap kenangan
Berharap temukan rautmu dalam lipatan mimpi
Menapaki hari tanpamu
Aku ibarat puisi yang tidak pernah selesai
Kehilangan arti
Berkali coba bangkit
Berkali juga harapan berderai
Ibu, maaf jika aku masih kehilangan
Masih larut dalam kubangan penyesalan
Menyesatkan angan tetap bersamamu
Biarkan dekapan hujan menenggelamkan segalanya
Siasati hati tuk menganggapmu masih ada
Sambil mengolah rasa
Menikmati kenanganmu
Selamaanya
Padang lawas, 20 Oktober 2022
Ekawati, dilahirkan 36 tahun silam
tepatnya 22 Agustus di kota bertuah Pekanbaru. Tinggal dan menetap di Padang
Lawas. Kegiatan sehari-hari sebagai Tenaga Pendidik di SMA Negeri 1 Ulu
Barumun. Aktif di beberapa grup sastra. Telah menerbitkan sebuah novel yang
berjudul Cinta Pada Pecahan Cermin (2021), selain itu saat ini telah
bergabung dalam kurang lebih 20 antologi bersama, dan beberapa antologi lain
yang masih dalam proses penerbitan.
Foto EKAWATI DAN IBU SUPARTIN

ANTOLOGI PUISI IBU _ Zaini Dawa
Nama : Zaini Dawa
Judul : IBU
Isi :
Bu, bila kutatap langit
Ada bening genangi rindu
Ada pesan tak sempat tertulis dalam puisiku
Ada rasa yang terpasung bisu
Indah cintamu memanjakan bintang-bintang
Rentang selendangmu mengayun kenakalan
Ibarat matahari merangkum cahaya bulan
Sebelum jingganya berbisik pada laut yang menelannya
Petuah indah melengkung warnai pelangi
Estetika bahasanya terbentuk dari sabda hati
Bahasa ibu bahasa cinta
Bahasa yang takkan pernah habis disusun para penyair
Bulu matamu padang ilalang
Sebutir debu tawar cemar mengering
Sekali berkedip segurun lenyap menghilang tanpa bayang-bayang
Ibu ....
Surgaku di bawah telapak kakimu
Jika nanti aku harus memilih pintu mana melewatinya
Aku pastikan pintu hatimu ibu yang paling aku rindu
Sumenep, 18 Oktober 2022
Nama : Zaini Dawa
Judul : WANITA YANG
KUPANGGIL IBU
Isi :
Dia wanita yang kupanggil ibu
Menyulam embun menjadi harapan
Merenda air mata menjadi semangat
Lalu tersenyum menawan kalahkan bidadari
Wanita yang kupanggil ibu
Tempat rebah gelisah
Bejana tempat seluruh kasih sayang
Juga usap lembut penuh cinta
Duhai wanita yang kupanggil ibu
Kini peluhmu menjelma air mataku
Simpuh dan tengadah menjadi pengaduanku
Semoga al-fatihah yang kulafazkan menjadi selimut hangatmu
Sumenep, 25 Oktober 2022
Nama : Zaini Dawa
Judul : RINDU DI ATAS PUSARA
Isi :
Berbutir riuh sangkal di ujung dedaunan
Meneteskan haru pilu di sekujur taman
Benih yang sempat menghilang tertelan malam
Dikembalikan desir bayu dalam keadaan carut marut
Patah hati kali ini begitu menyakitkan, bu
Lihatlah rindu terlunta di atas pusaramu
Binar bahagia melindap
Serupa matahari tercelup air laut menutup cerita
Sebelum cahaya tuntas membiaskan rona bianglala
Telah kurekam wajahmu dalam ingatan
Melambungkannya jauh ke angan
Mengubah badai hati menjadi bulir embun
Lalu tengadah lafazkan doa penenang jiwa
Sumenep, 3 Oktober 2022

Media
sosial, Fb : Zaini Dawa, WA :
+62832-0170-0465, YouTube : Gus I
https://www.youtube.com/channel/UC4tGFSsH-tUEK44Z8g6NbeQ
BLOGGER: https://zaini-dawa.blogspot.com/
IBU SO’AMA

KUNTILANAK MERAH
KUNTILANAK MERAH Zaini Dawa Jauh jauh mendekat Dekat dekat menjauh Samar-samar menampakkan diri lalu lenyap Hilang ditelan asap...
-
SEBUTIR DEBU (Zaini Dawa) Hey, rembulan biru Aku datang dengan cinta berembun Berebut pagi yang jujur dan lembut Dengan napas yang selalu ba...
-
SAJAK BERLUMURAN MADU Dengan menyebut namamu Aku tulis puisiku seharum napas bunga Aromanya menyeruak ditebar angin barat Kau be...
-
Rasanya aku ingin mencungkil mataku Dan menutupinya dengan bayangan hitam di pundakmu Tapi, itu tidak mungkin Karena aku masih ingin ...